Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

Negara Islam: Fakta Normatif Dan Empiris

Ada sebagian intelektual yang menyatakan, bahwa Alquran dan Sunnah tidak pernah mewajibkan untuk mendirikan Negara Islam. Bahkan, ada yang menyatakan, bahwa Alquran dan Sunnah juga tidak pernah menyebut Negara Islam.

Pernyataan seperti ini bisa terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, karena merasa tertuduh, terutama ketika Negara Islam telah menjadi monster yang menakutkan, sehingga takut. . Kedua, karena tidak tahu atau tidak menemukan, bahwa Negara Islam tersebut memang ada di dalam Alquran dan Sunnah.

Sabtu, 12 Februari 2011

Fatwa Mufti Saudi Bela Thoghut

Sejak dimulainya demonstrasi rakyat di Mesir 25 Januari 2011 yang lalu, banyak fatwa telah dikeluarkan, yang umumnya berpihak kepada para demonstran, dan mendorong mereka untuk melanjutkan aksi mereka hingga tuntutan mereka terwujud. Yang paling menonjol adalah apa yang dinyatakan oleh Per...satuan Ulama’ kaum Muslim, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi.

Sebagaimana puluhan ulama juga ikut dalam barisan pengunjuk rasa di Tahrir Square, sebagian lain dari ulama’ al-Azhar sendiri. Sebagian lainnya lagi dari ulama’ al-Jam’iyyah as-Syar’iyyah, dan persatuan-persatuan ulama’ kaum Muslim lainnya. Jurubicara resmi al-Azhar, Muhammad Rifaat at-Thahthawi, menyatakan mundur dari jabatannya, dengan alasan tidak ingin menyulitkan al-Azhar, karena dia mendukung demonstrasi rakyat, dimana dia menegaskan pentingnya keterlibatan ulama’ dalam Revolusi Rakyat ini.

Senin, 24 Januari 2011

Menyoal Fiqh Al-Waqi'

Yusuf al - Qaradhawi (ulama moderat)

oleh:  M. Shiddiq Al-Jawi

Fiqh al-wâqi‘ (fikih realitas) merupakan gagasan dasar Yusuf al-Qaradhawi dalam upayanya melakukan pembaruan fikih untuk menyikapi realitas modern. Dalam kitabnya, Fiqih Peradaban (1997), al-Qaradhawi menjelaskan, fiqh al-wâqi’ ialah pengetahuan mengenai realitas yang sebenarnya, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. (1997: 292). Realitas ini penting dipahami karena, menurut al-Qaradhawi, pemahaman atas realitas akan menjadi pertimbangan tentang bagaimana kita berhubungan dengan realitas: apakah realitas itu akan kita terima atau kita tolak? (1997: 293)

Selasa, 31 Agustus 2010

MAHASISWA DAN PERUBAHAN

Berbicara tentang perubahan masyarakat maka kita tidak akan melupakan sosok makhluk yang bernama Mahasiswa.  Sejarah telah mencatat peran mahasiswa yang begitu sentral dalam melakukan perjuangan menuju kemerdekaan maupun mengawal kemerdekaan itu sendiri, ini menunjukkan bahwa jiwa militansi Mahasiswa dalam berjuang tidak pernah surut. Hal ini harus senantiasa tercatat dalam kamus seorang pendobrak  kejumudan atau anti status Quo yang tidak mengenal lelah dalam berjuang apalagi mundur,  yang ada adalah semangat yang terus menggelora. Setelah mencermati sejarah perjalanan kehidupan Bangsa sejak Indonesia mengadakan Proklamasi Kemerdekaan 65 Tahun lalu hingga saat ini secara substansial sesungguhnya kita masih berada dalam naungan ketiak negara imprealis (masih terjajah). Jadi inilah yang menjadi PR besar bagi Mahasiswa.


Salah satu gerakan yang paling ditakuti seantero jagat ini adalah gerakan Force yaitu gerakan yang lahir dari kesadaran mahasiswa itu sendiri, sekedar mereview kembali sejarah perjalanan dan perubahan sejak Proklamasi hingga sekarang setidaknya telah terjadi tiga kali perubahan yaitu perubahan dari orde lama ke orde baru kemudian dari orde baru beralih ke orde reformasi sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa. 

Selasa, 24 Agustus 2010

~Sebuah Komentar Atas Demokrasi (Terkait hukum membuat KTP dll)~

Tanpa sadar, seringkali keberpihakan kita terhadap suatu pemikiran atau ide disandarkan kepada konsistensi pengikut ide itu dalam berpegang teguh kepada ide-idenya. Kita seringkali mencemooh suatu ide atau pemikiran, ketika kita melihat para pengembannya sudah tidak lagi konsisten (inkonsistensi) terhadap ide atau pemikiran tersebut. Bahkan, seringkali kita malah antipati terhadap suatu ide, ketika pengikut atau pengusung idenya tidak lagi konsisten memegang ide tersebut, atau ketika mereka kesulitan mengimplementasikan ide-idenya di ruang realitas; padahal ide itulah yang benar sesuai dengan syari’at.
Contohnya, ide Khilafah Islamiyyah. Banyak orang menolak ide khilafah, atau mencemooh ide ini, atau tidak mau memperjuangkannya, ketika para pengikutnya sudah tidak lagi konsisten, atau karena mereka sudah berbelok tidak lagi memperjuangkan ide tersebut karena adanya tekanan dan kesulitan; atau karena ide ini dianggap sulit untuk diperjuangkan dan diimplementasikan; atau kurang marketable. Sebaliknya, banyak orang berbondong-bondong memperjuangkan ide sesat ala demokrasi, dengan alasan ide ini lebih mudah diterapkan, atau karena banyak orang dan kelompok yang memperjuangkannya. Akhirnya, tanpa pikir panjang banyak kaum Muslim terper

Senin, 16 Agustus 2010

Peta Global Perjuangan Menegakkan Khilafah

Peta Perjuangan


Perjuangan menegakkan Khilafah sudah mulai begitu Khilafah dihapuskan pada 1924. Di Hejaz tahun 1925 dan 1926 sempat diadakan konferensi Khilafah. Namun, gaung perjuangan ini tertutupi situasi dunia saat itu: Depresi Ekonomi 1930-an, Perang Dunia ke-2, berdirinya Negara Zionis Israel, upaya melepaskan diri dari penjajahan pada negeri-negeri Muslim di era 1960-an, dan Perang Dingin dari tahun 1960-1970-an.
Kegagalan yang bertubi-tubi pada persoalan Palestina, invasi Uni Soviet ke Afganistan tahun 1980 dan persoalan di Balkan (Bosnia) tahun 1991 telah memulai gelombang kesadaran baru di tengah umat Islam tentang perlunya kesatuan politik Islam global.
Dari sinilah kemudian gelombang dakwah Islam yang lebih fokus pada penegakan syariah dan Khilafah meluncur bak bola salju.

Selasa, 10 Agustus 2010

SULTAN ABDUL HAMID II, BENTENG TERAKHIR KHILAFAH ISLAM

Sultan Abdul Hamid II, lahir hari Rabu tgl. 21 September 1842, Beliau diangkat menjadi khalifah pada tanggal 14 Agustus 1876, saat berusia 34 tahun. Dimana kondisi dalam negeri sangat memburuk, gerakan-gerakan sesat yang di dukung negara-negara barat bermunculan di setiap tempat.


Sultan Abdul Hamid II mewarisi Istana Daulama Bahjah dari bapaknya Sultan Abdul Majid. Istana ini sangat luas. Kamar-kamarnya sangat indah dengan perhiasan yang sangat banyak, serta taman istana memanjang sampai Bosfor. Bangunan termegah dengan arsitek ter-modern. Tetapi, Sultan Abdul Hamid tidak tertarik. Sultan yang tawadhu' ini hidup jauh dari hiruk pikuk keramaian, membenci keserakahan dan kesombongan. Ia tinggal di bagian barat negeri istambul, di sebuah istana yang sederhana, istana Yaldar. Disinilah, pusat pemerintahan dan alat kontrol seluruh aktivitasnya.

Sultan sangat disiplin dalam menjalankan sholat, soleh dan istiqamah. Di istana yang sederhana itulah ia tinggal selama 25 tahun. Beliau sangat cemas dengan kondisi yang terjadi pada saat itu, dimana konspirasi timbul dari dalam dan luar negeri, yang mengancam eksistensi khilafah Islam. kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya. mereka merencanakan makar, menjatuhkan mental Sultan dengan berbagai macam tuduhan. Tuduhan itu tidak mempunyai dasar sama sekali. Disebutkan pada mudzakirohnya, bahwa sultan terkenal dengan sifat pemaaf, dan akhlaq inilah yang beliau ikuti untuk memperbaiki manusia.

Sultan abdul Majid, bapaknya, mewariskan sistem pemerintahan yang dipengaruhi sistem romawi. Keputusan2 negara lebih banyak ditangani Perdana menteri Rasyid Basya yang aktif pada organisasi Freemasonry Yahudi.
Penggantinya Sultan Abdul Aziz, juga mengikuti pola pendahulunya. Hal ini bisa diketahui dengan kuatnya dominasi Gerakan turki muda yang dikendalikan Freemasonry Internasional. gerakan inilah yang menjatuhkan Sultan Abdul Majid dan menggannya dengan Sultan Murad, seorang tokoh Freemasonry juga. Kegoncangan Khilafah Utsmaniyah begitu hebat, mengakibatkan Sultan Murag yang cuma memerintah 93 hari ini menjagi hilang ingatannya.
Maka, Kesultanan digantikan oleh Sultan Abdul Hamid II.



Tatkala Sultan memegang kekhalifahan, kekuasaannya meliputi daerah Balkan, Kep. Anadhol, Kep. Yunani, Syiria, Libanon, Palestina, Yordania, Irak, Iran dan pesisir Afrika.

Kekuasaan Sultan di daerah lain hanya sekedar nama & simbol saja. Yaman dan Jazirah Arab tidak tunduk secara utuh. begitu juga Mesir dan Kubrus.
Ketika beliau memerintah th. 1876, penduduk Bosnia Herzegovina (Yugoslavia) keluar dari kekhalifahan. Mereka mengalahkan tentara Turki dan mengepung Monte Negro. negeri Arab mengumumkan perang dng kekuatan yg tersusun rapi.

Rusia bergerak ke arah Aya Sofia, berusaha menjatuhkan Sultan Abdul Hamid dan menguasai daerah2 yang vital. Sedangkan negara2 lain mengadakan muktamar di istambul yang menghasilkan suatu keputusan bahwa negara2 Eropa merelakan Rusia menguasai negeri2 yang dikehendakinya. Muktamar ini dihadiri oleh Madhat Basya dan antek2 Inggris. dan ruh permusuhan salib telah tertanam pada para peserta muktamar.

Sultan Abdul Hamid mewarisi hutang yang banyak. kekayaan negara semakin berkurang, hasil produksi tidak berjalan baik, dan Sultan menuju ambang kehancuran dari dalam.
Dalam kondisi seperti ini, sultan menjalankan peranannya dan mengatur siasat secara cerdik dalam menghadapi konspirasi mengeroyok Khalifah Utsmaniyah. Beliau berusaha memecah belah negara2 Eropa yg lain.
Setelah Yahudi Internasional melalui gerakan Freemasonry berusaha memasuki Palestina, salah seorang wakil dari mereka dr. Hertzel datang ke Sultan dng berbagai tawaran yang menggiurkan supaya bisa menguasai Palestina. Tapi Sultan menolak dengan jawaban yang terkenal :

"Dr. Hertzel, berhati2lah! Jangan teruskan lebih lanjut langkah anda itu, karena aku tidak akan memeberi sejengkal tanahpun di Palestina. Tanah ini bukan milik pribadiku, tetapi TANAH UMAT ISLAM yang diperoleh dengan darah dan jiwa mereka. Hingga suatu hari kalian bisa merobek2 kekuasaanku. Tapi, hal itu tidak mungkin terjadi selama aku masih hidup"

Karena konspirasi Internasional begitu hebat, sementara negara2 Arab-pun mulai terhasut oleh ghozwul fikri musuh2 Islam yang mengakibatkan mereka lebih cenderung pada nasionalisasi Arab.
Senin tgl. 13 Maret 1924, Khilafah islam se-dunia akhirnya jatuh. dengan berakhirnya Kekhalifahan ini, lenyaplah ikatan Islam, kesatuan Islam, setidak2nya sampai saat ini.
Namun, sejarah mencatat Sultan Abdul Hamid II, sebagai benteng terakhir kekhalifahan ini telah berusaha keras menjaga keutuhan Daulah islam dari segala bentuk konspirasi, fitnah dan cobaan.

Semoga Allah memberkati Sultan Abdul Hamid II atas usahanya yang begitu gigih membangun khilafah yang menyatukan umat dalam suatu sistem pemerintahan Islam se-dunia. (Oleh Arlina Mujahidah)


Selasa, 27 Juli 2010

Rekonstruksi Dan Reunifikasi Kekuatan Dunia Islam (Bagian I)

Add caption
Runtuhnya institusi Negara Khilafah pada tanggal 3 maret 1924 merupakan bencana dan pukulan yang sangat mematikan terhadap Islam dan Umat Islam. Berbagai bencana silih berganti menimpa umat Islam. Ikatan Aqidah sebagai Ikatan pemersatu kaum muslim tidak lagi terwadahi dan tergantikan oleh ikatan kebangsaan. Akibatnya, umat Islam hidup berantakan dan dikerat-kerat menjadi Negara yang kerdil dan tidak berdaya. Sebagai bukti nyata dimana didepan mata Umat islam dan penguasa negeri kaum Muslimin, Israel mempertontonkan secara vulgar kebiadaban dan pembataian terhadap warga Palestina namun apa respon mereka jangankan mengirimkan Pasukan untuk menolong saudara se-Aqidah namun mengecam saja tidak mampu. Padahal tentara kaum Muslimin memiliki jumlah yang sangat banyak sehingga bisa mengepung dan dan menghancurkan entitas yahudi dalam sekejap.

Bahkan lebih menyakitkan lagi banyak penguasa negeri Muslim justru memasang dada untuk membela sang penjagal entitas Yahudi dan pada saat yang sama mengerangkeng dan mengisolasi warga Gaza.

Di berbagai belahan bumi yang lain umat Islam seperti Irak, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan, Ethiopia, Sudan, Pattani, Mindanao, Rohingya dll. Hingga saat ini berada dalam masalah yang tak pernah terselesaikan ini menjadi bukti bahwa penguasa negeri-negri kaum Muslimin sangat Tumpul.

Penyebab kemunduran Kaum Muslimin.

Puncak dari kemunduran kaum Muslimin adalah ketika Institusi yang menjadi penopang dan penjaga islam berhasil di Abolisi oleh Kafir penjajah melalui antek mereka yaitu Mustafa kemal Attartuk seorang keturunan yahudi yang sengaja di susupkan untuk menjalankan agenda jahat penjajah barat. Terlepas dari itu, secara garis besar ada dua faktor yang menjadi penyebab keruntuhan Institusi Khilafah antara lain :

1. Faktor Internal.

Sejak di tutupnya pintu Ijtihad sebagai sebuah metode untuk menggali hukum-hukum Islam dalam rangka memberikan jawaban den penjelasan terhadap persoalan-persolan kontemporer. Derasnya arus Barat yang menghembus dan menyusup kedalam tubuh kaum Muslimin menyebabkan kaum Muslimin mengalami kebingungan yang luar biasa sehingga tanggapan terhadap barat pun sangat beragam, ada yang menanggapinya dengan menolak secara keseluruhan namun ada juga yang menerima. Disamping itu lemahnya pemahaman umat terhadap islam yang amat parah ,yang menajalar kedalam pikiran umat secara tiba-tiba. Ini. Berawal tatkala bahasa Arab mulai diremehkan peranannya untuk memahami islam sejak awal abad VII Hijriah, sehingga kekuatan yang dimiliki bahasa Arab dengan kharisma Islam terpisah. ( Lihat : Mafahim Hizbut tahrir, hal 5)

Jadi kelihatan sangat jelas bahwa kaum Muslimin mundur pada saat mereka tidak lagi konsisten untuk mempertahankan Ideologinya .

2. Faktor Eksternal.

Sejak kekalahan Eropa dalam perang salib ketiga mereka mulai menyadari bahwa mustahil mengalahkan kaum muslimin dengan pendekatan hard power sehingga mulai mengubah pola penyerangan dan penghancuran terhadap Islam dan Kaum Muslimin dengan pendekatan Sofh Power. Dengan pendekatan tersebut, mereka lebih mudah dan leluasa untuk masuk kedalam Khilafah dan stretegi ini pertama kali dilakonkan oleh para misionaris dengan modus mendirikan sekolah untuk mendidik dan mengacaukan pemikiran generasi islam.

Tidak berhenti sampai disitu barat terus melakukan makar setelah mengacaukan dan mengancurkan konstruksi pemikian islam tahap selanjutnya adalah dengan melakukan pelemahan terhadap daulah khilafah, setelah melihat ada celah didalam tubuh daulah maka mereka melakukan politik pecah belah yaitu mempropagandakan paham nasionalisme untuk membangkitkan sentimen antara Turki dan Arab.

Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama dan intelektual Islam. Bermula dari munculnya berbagai propaganda ke arah nasionalisme yang dipelopori oleh Partai Persatuan dan Pengembangan, mereka memulai gerakannya dengan men-Turki-kan Daulah Utsmaniah di Turki. Untuk menopang dakwahnya ini, mereka menjadikan serigala (sesembahan bangsa Turki sebelum datangnya Islam) sebagai syiar dari gerakannya tersebut. (Muhammad Muhammad Husain, Ittijâhât Wathaniyah, II.85).

Mungkin hal yang terpenting adalah kelompok yang bergerak untuk menyebarkan paham nasionalisme, mereka tidak mempunyai gerakan yang berarti untuk meruntuhkan Daulah Islamiyah kecuali dengan “menyebarkan paham nasionalisme”. Oleh karena itu, mereka bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Ternyata paham nasionalisme tersebut merupakan unsur terpenting di dalam melemahkan kekuatan Daulah Islamiyah, karena umat Islam, dengan nasionalisme, akan tercerai-berai, saling berselisih; masing-masing ingin bergabung dengan suku dan kelompoknya, ingin melepaskan diri dari kekuasaan Daulah. Cukuplah dengan gerakan untuk memisahkan diri tersebut akan terkotak-kotaklah kekuatan umat. Dengan demikian, Daulah akan melemah dan terputus jaringannya dan akhirnya ambruk…Begitulah yang terjadi. (Mahmud Syakir, Târîkh Islâm, Al-Maktab Islami, 1991 M, VIII/122).

Dengan bangkitnya semangat nasionalisme dikalangan warga Muslim Turki demikian juga dikalangan warga muslim Arab sehingga akibatnya orang-otang arab mengatakan bahwa kita dijajah oleh orang-orang turki demikian juga dikalangan orang-orang Turki mengatakan bahwa orang-orang Arab berkeinginan untuk merampas kekuasaan dari Orang-orang turki, jadi strategi barat berhasil melemahkan persatuan umat islam.

Potensi kekuatan kaum Muslimin

Untuk membangun sebuah kekuatan yang besar maka tentunya dibutuhkan faktor-faktor yang akan mendukung kekuatan tersebut, maka untuk itulah terlebih dahulu mengintip potensi kekuatan yang di miliki umat islam.

Dalam The Military Balance, 1989, 1990, juga disebutkan bagaimana peta kekuatan yang dimiliki kaum Muslim saat Khilafah ini berdiri. Umat Islam akan memiliki paling tidak 5,5 juta pasukan operasional, sekitar 4 juta pasukan cadangan, sekita 18 juta warga negara yang siap menjalani wajib militer (yang jumlahnya selalu meningkat setiap tahun seiiring terjadinya pertumbuhan kaum Muslim).

Selain itu, kaum Muslim juga menguasai sedikitnya 5.000 pesawat tempur, sekitar 27.000 tank, divisi-divisi infantri, sejumlah besar fregat, kapal selam, kapal-kapal kelas perusak, berbagai misil balistik, misil berhulu ledak konvensional, misil berhulu ledak non-konvensional – termasuk berhulu ledak thermo-nuklir. Belum lagi sejumlah lokasi pangkalan angkatan laut dan pangkalan angkatan udara yang paling strategis di dunia.

Potensi umat Islam untuk menjadi Negara Adidaya tak hanya sebatas itu. Kaum Muslim juga mengusai sumberdaya yang dibutuhkan untuk menjadikan mereka sebagai umat yang paling maju dalam bidang teknologi militer. Sumberdaya itu meliputi sumberdaya intelektual, sumberdaya material, potensi industri, dan sumberdaya manusia. Umat Islam memegang kendali atas 60% deposit minyak seluruh dunia. Umat Islam juga memegang kendali atas bagian yang besar dari deposit Boron (49%), Fosfat (50%), Strontium (27%), Timah (22%), dan Uranium. Umat Islam juga mempunyai sumberdaya intelektual dan tenaga ahli yang terbaik di dunia dalam jumlah yang melimpah. Sebagai contoh, Mesir mempunyai lebih dari 500.000 ilmuan dan insinyur, Turki sekitar 330.000, Malaysia 300.000, Pakistan sekitar 140.000, dan Indonesia paling tidak 100.000, dan lain-lain, hingga mencapai total sekitar 1,2 juta ilmuan ditambah sekitar 32.000 pakar riset dan pengembangan. (Some El-ementary Scienceometric Studies; A Study of Science and Technology Manpower Patterns vis-a-vis Population and GNP in the Muslim World, oleh M.M. Qurayshi dan S.M. Jafar, 1978).

Asep Syamsul mencatat warisan nuklir Uni Soviet sebagian telah jatuh ke negeri mayoritas berpenduduk muslim di Asia Tengah Kazakstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbeizan, Tajikistan dan Kirgistan. Bahkan sekitar 943 % atau setara dgn 1.150 rudal balistik diwarisi Kazakstan. Terhadap ini Doff Zakem menulis di Washington Pos 14 Januari 1992 “Inilah utk pertama kalinya Israel mendapati dirinya dalam ancaman.” Memang dengan senjata nuklir Kazakstan dapat mulumatkan Israel dalam beberapa menit saja.

Pakistan diperkirakan sedang memproses 70-90 senjata nuklir, demikian pula India diyakini sedang mengembangkan 60-80 senjata nuklir, kata Robert S Norris dan Hans M Kristensen, dalam artikel terbaru mereka berjudul, "Nuclear Notebook: Worldwide deployments of nuclear weapons, 2009", sebagaimana dikutip dari PTI-OANA. Negeri muslim lain yg juga mengembangkan nuklir seperti Iran, Libya dan Surya.

Dengan potensi kekuatan kaum Muslimin yang ada maka peluang untuk menjadi kekuatan Adidaya dunia sangat terbuka lebar tinggal persoalannya adalah bagaimana meramu kekuatan yang ada untuk menyatu dalam satu konsentrasi. (Bersambung) (Oleh : Saifullah, UKM LDK LDM UMI Makassar).

http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/902-rekonstruksi-dan-reunifikasi-kekuatan-dunia-islam-bagian-i.html

Senin, 02 November 2009

Perlukah Ideologi Mahasiswa ?

Menanggapi pertanyaan diatas, setidaknya akan ada beberapa asumsi awal terkait apa yang menjadi landasan filosofis kemunculannya. Berangkat dari pendekatan teks, ungkapan tersebut bisa berarti selama ini mahasiswa tidak atau belum memiliki paradigma ideologi, atau bisa juga berarti mahasiswa sebenarnya telah berideologi tapi masih terkooptasi oleh sebuah anutan ideologi elite tertentu, dalam artian masih jauh dari sifat kemandirian dalam berideologi. Asumsi yang lebih jauh, pertanyaan tersebut muncul sebagai sebuah keprihatinan atas hasil buruk yang telah dicapai oleh mahasiswa setelah menganut pola tertentu yang jauh dari mid-set ideologi sehingga muncul sebuah keinginan untuk mencoba pola baru dengan pendekatan yang berbasis ideologi. Apapun asumsi yang dianggap benar, setidaknya kemunculan pertanyaan tersebut menunjukkan masih adanya usaha mahasiswa untuk keluar dari kejumukan dan stagnatisasi yang berlangsung selama ini, meskipun mungkin baru dalam tataran diskursus.

Realitas Ideologi
Membahas mahasiswa, tentu tidak bisa dilepaskan status asalnya sebagai manusia dengan identitas kemanusiaan yang dimiliki secara. Bukan berarti dengan status sebagai mahasiswa, maka kalau kita tidak butuh makan, kalau mengantuk tidak ingin tidur, kalau tertekan tidak berusaha berontak, kalau merasa terancam akan berupaya mempertahankan diri, atau sifat-sifat manusiawi yang lain. Termasuk dalam hal menentukan sikap untuk berideologi atau tidak, tentu tidak bisa dilepaskan dari sisi bahwa mahasiswa juga manusia. Ada tiga pertanyaan mendasar yang senantiasa ingin dipecahkan oleh manusia menyangkut keberadaannya di dunia ini. Ketiga pertanyaan itu adalah: (1) Darimana asal manusia dan kehidupan ini?; (2) Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?; (3) Mau kemana manusia dan kehidupan setelah ini? Ketika tiga pertanyaan di atas terjawab—terlepas jawabannya benar atau salah—maka seseorang telah memiliki landasan, tuntunan, sekaligus tujuan hidup. Dia akan hidup di dunia ini sesuai dengan landasan itu. Dia akan berbuat dengan standar dan nilai-nilai yang didasarkan pada landasan tersebut. Dia akan menjalankan aktivitas ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain berdasarkan landasan tersebut. Bahkan ia akan mengajak orang/kaum lain agar menjalankan kehidupannya dengan mengikuti landasan tersebut. Pada masa sekarang, pada faktanya, landasan hidup yang digunakan manusia itu adalah ideologi.
Secara umum, ideologi (Arab: mabda') adalah pemikiran paling asasi yang melahirkan—sekaligus menjadi landasan bagi—pemikiran-pemikiran lain yang menjadi turunannya. (M. Muhammad Ismail, 1958). Pemikiran mendasar dari ideologi ini dapat disebut sebagai akidah ('aqîdah), yang dalam konteks modern terdiri dari: (1) materialisme; (2) sekularisme; (3) Islam. Akidah ini berisi pemikiran mondial dan global mengenai manusia, alam semesta, dan kehidupan dunia; tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; berikut kerterkaitan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan setelah dunia ini. (M. Husain Abdullah, 1990). Akidah ini kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran cabang yang berisi seperangkat aturan (nizhâm) untuk mengatur sekaligus mengelola kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya—politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Akidah dan seluruh cabang pemikiran yang lahir dari akidah itulah yang disebut dengan ideologi. Dengan ungkapan yang lebih spesifik, ideologi (mabda') dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar, pen.) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan (An-Nabhani, 1953: 22).
Pada kenyataannya, di dunia saat ini hanya ada tiga ideologi: (1) Sosialisme-komunis, yang lahir dari akidah materialisme; (2) Kapitalisme-sekular, yang lahir dari akidah sekularisme; (3) Islam, yang lahir dari akidah Islam.


Ideologi Adalah Dasar Kebangkitan
Kata kebangkitan adalah sebuah kata indah yang seringkali diucapkan untuk memaknai sebuah kondisi baru yang lebih baik. Sebuah kondisi masa depan yang lebih progresif, tetapi kadang-kadang hanya menjadi sebuah khayalan atau utopi baru bagi orang-orang yang suka berkhayal. Kita katakan demikian karena kesadaran orang-orang itu tidak lagi mampu menjangkau arti sebuah kebangkitan. Kebangkitan dalam pemaknaan mereka hanya mampu dimaknai sebagai sebuah semangat untuk berubah sampai pada titik dimana semangat itu redup kemudian mati. Lalu sudut-sudut negeri ini kian gelap, sampai pada saat kegelapan itu makin larut, suara-suara kebangkitan itu menyendiri, seperti sepinya lolongan serigala yang memandang terangnya bulan dari kejauhan.
Kebangkitan dibutuhkan baik bagi seorang individu maupun sebagai umat. Hal ini dikarenakan sumber dari ideologi adalah konsepsi pemikiran mendasar, dan faktanya manusia secara umum akan bertingkah laku sejalan dengan buah pemikiran yang menjadi pemahaman yang diyakini. Individu yang bangkit akan mampu menatap hidup dengan lebih mantap dan terarah. Sebuah umat yang bangkit cenderung menjadi berpengaruh dalam percaturan/interaksinya dengan umat-umat atau bangsa-bangsa yang lain. Bahkan menjadi poros perputaran interaksi antara bangsa-bangsa sehingga, kemanapun ia berputar maka umat-umat atau bangsa lain akan mengikutinya. Kondisi ini dengan sendirinya akan membentuk peta politik internasional dan menempatkan umat-umat itu pada posisi relatifnya masing-masing. Sehingga, umat yang berpengaruh (bangkit) secara otomatis menjadi kiblat interaksi (atau menjadi negara dunia pertama), sampai pada titik yang paling tinggi ketika umat itu menjadi kiblat ideologis (mabda’i) dalam interaksi internasional itu.
Sementara itu, disisi lain negara-negara dunia ketiga secara otomatis akan memilih kiblat interaksinya, tergantung dari adanya kesamaan tertentu atau sama sekali hanya mengikuti arus perputaran itu. Realitas semacam ini dapat dilihat ketika Khilafah Islamiyah mengendalikan interaksi antara bangsa sebelum keruntuhannya, Uni Sovyet dan Amerika Serikat masing-masing memimpin interaksi Blok Timur dan Blok Barat pada masa lalu. Atau setelah Blok Timur runtuh, maka bangsa-bangsa yang bangkit seperti AS, Inggris, Jerman, dll., masing-masing secara relatif menjadi pengendali interaksi internasional.Bagaimana dengan Indonesia? Jelas bahwa Indonesia belum bisa dikatakan sebagai negara yang bangkit. Jangankan berbicara tentang keinginan untuk menguasai dunia, mengatasi masalah dalam negeri saja sangat payah.
Pertanyaannya sekarang, diantara dua pilihan antara menjadi umat yang bangkit atau menjadi umat yang berposisi subordinat, mana yang kita inginkan? memilih menjadi umat yang bangkit artinya kita ingin menjadi umat yang berkuasa, umat yang terdepan, dan pemimpin, ataukah kita hanya ingin menjadi umat yang subordinat yang artinya terbelakang, pengekor, tidak punya harga diri, dan harus siap menjadi obyek pembodohan. Pertanyaan ini perlu dijawab sebagai sebuah Kondisi yang ideal yang kita inginkan untuk kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilalui. Begitu pula bagi mahasiswa dengan berbekal ruh perubahan yang dimiliki diharapkan nantinya bisa menetapkan mainstrem pergerakannya supaya tidak terkesan asal-asalan dan apa adanya.

Benturan Ideologi adalah Keniscayaan
Memahami bahwa ideologi terlahir dari pemikiran mendasar terkait pada obyek pembahasan yang sama, maka jelas perbedaan kesimpulan yang dihasilkan memastikan terjadinya benturan. Benturan mutlak harus ada dikarenakan kesimpulan dari pembahasan ideologi adalah dua kutub ekstrim yakni salah atau benar. Disinilah kesalahan yang terjadi selama ini, jika pembahasan terkait ideologi berusaha untuk di reduksi dan dijauhkan dengan alasan mencari titik kompromi atau menghindari clash. Bahkan ada yang sampai berusaha untuk mengunci rapat pembahasan ideologi. Bukankan ujung pembahasan ideologi itu adalah rasionalitas, pencerahan dan kebenaran ? Bukankah kita adalah makhluk yang mulia dikarenakan potensi akal yang dimiliki, tentu memang mencari rasionalitas, pencerahan, dan kebenaran ? Lalu apakah pantas kita lari dari sebuah ranah keharusan untuk berideologi dengan benar yang berarti kita rela mencabut sisi kemuliaan kita sebagai manusia ?
Dunia senantiasa bergerak dalam sebuah orbit pertarungan ideologi. Tidak terkecuali hari ini, dimana orbit utama adalah dikendalikan oleh ideologi kapitalisme (baca : AS). Posisi ini membuat AS leluasa untuk menjajankan nilai – nilai yang dianut oleh ideologinya, dalam bentuk hegemoni dan eksploitasi. Kekuatan ideologi menegasikan adanya limit territorial dalam penyebarannya. Magnet ideologi sedemikan kuat untuk menembus seluruh ruang – ruang dunia. Kita bukan saatnya lagi menganggap bahwa, ekses Jakarta itu tidak ada kaitannya dengan Washinton, ekses Makassar itu tidak ada kaitannya dengan Ibu kota, pemilu di Indonesia itu tidak ada kaitannya dengan Gedung Putih, ataukah BHP unhas itu tidak ada kaitannya dengan intervensi UU liberal yang banyak di intevensi oleh Barat dinegeri ini. Hal ini penting untuk kita ketahui, agar kita betul – betul sampai pada hasil identifikasi masalah yang akurat, yang tentu akan berkaitan dengan solusi yang ingin kita gagas. Jika kita mampu menterjemahkan persoalan ini dengan kaca mata ideologi dalam kancah kosmo dan global, maka tentu kita akan memahami beberapa hal : Mungkinkah teriakan perubahan kita yang bersifat lokal itu mampu menggetarkan. Mungkinkah racun sekularisme dan kapitalisme (sumber masalah) yang terkemas dalam wadah ideologi yang apik, bisa kita hentikan dengan paradigma gerak yang pragmatis, emotional, dan sporadis layaknya gerakan ayam potong sebelum matinya.
Jadi sebenarnya yang menjadi penyebab atau pendorong utama kebangkitan umat adalah Ideologi (Mabda). Sebagai contoh dan juga sebagai alternatif yang ingin ditawarkan penulis adalah Islam. Islam adalah sebuah ideologi dikarenakan darinya terlahir sistem kehidupan.. Ideologi (Mabda’) Islam yang dimaksud adalah mabda’ Islam yang memiliki kejelasan konsep/fikroh/pemikiran dan thoriqoh/metode operasional yang berfungsi untuk menerapkan fikroh dan menyebarluaskan mabda’ Islam itu ke seluruh penjuru dunia. Kita capai kebangkitan Islam yang hakiki dengan menjadikan Islam sebagai azas kebangkitan kita, mengatur kehidupan kita dan melakukan interaksi dalam dan luar negeri dalam payung ideologi Islam. Sehingga Islam akan berputar, dan menjadi poros perutaran seluruh bangsa. Oleh sebab itu kita tidak harus menjadi plagiator ideologis dengan mencontoh kebangkitan eropa maupun sovyet untuk meraih kebangkitan. Islam memiliki karakter yang khas dalam melakukan transformasi sosial. Dengan terlebih dahulu memunculkan kesadaran ideologis (ini yang tidak ada sekarang) untuk menjadi Khairu Ummah (umat terbaik). Selanjutnya dari kesadaran itu terbentuk gerakan politik yang bergerak dengan karakter yang tegas untuk kemudian mentransformasikan kesadaran itu ditengah-tengah umat. Hingga akhirnya bersama-sama menyambut kebangkitan itu. Kita semua menginginkan kebaikan, tapi sesungguhnya kebaikan yang kita inginkan hanyalah ada pada ideologi Islam
Melangkah mencapai kebangkitan itu tidak bisa dilakukan dengan menggunakan kaki yang sama ketika kaki itu terbukti telah puluhan tahun lumpuh dan menimbulkan efek keterpurukan yang menetap serta memperlama ketertidasan kita dibawah kungkungan ideologi kapitalisme. Lalu apa yang kita harapkan dari sekularisme yang telah hampir sembilan puluh tahun menindas dan membuat penjara sistem yang membuat kita tidak bebas menyuarakan Mabda’ islam kita. Untuk apa kita harus berkompromi dengan kapitalisme dengan segala derivat ideologinya seperti demokrasi, liberalisme dan lain-lain.

Positioning Mahasiswa
Status kita sebagai mahasiswa jangan membuat kita justru keluar dari orbit ideologi. Sikap itulah yang telah menyebabkan hasil pencapaian kita begini-begini saja. Perlu ada revitalisasi peran mahasiswa yang bersifat utuh. Predikat filosofis mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), kekuatan moral (moral force), cadangan potensial (iron stock), dan sebagainya jangan hanya menjadi ungkapan romantisme belaka. Alasannya karena slogan romantis tersebut tidak pernah menemui realitasnya secara benar! Dalam tataran gerakan, perlu dimunculkan kesadaran kolektif akan pentingnya upaya rekonstruksi gerakan yang saatnya berbasis pada paradigma ideologi. Ini dulu yang penting sebagai landasan gerak, adapun tataran metodelogi dan strategi akan kita kontekskan berdasarkan potensi dan peran mahasiswa sebagai “salah satu” intrumen perubahan masyarakat.Wallahu A’lam Bishowab