Selasa, 27 Juli 2010

Rekonstruksi Dan Reunifikasi Kekuatan Dunia Islam (Bagian 3 Selesai)


Setelah umat memberikan mandat melalui simpul-simpul kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan, menata dan mengelola pemerintahan dengan syariah. Maka langkah selanjutnya adalah “menyeret” kembali negeri-negeri Islam yang hidup berantakan dan terkotak-kotak dalam entitas yang batil ke dalam pusaran khilafah.
Namun sebelumnya terlebih dahulu kita menakar sejauh mana peluang untuk melakukan Reunifikasi kekuatan dunia Islam setidaknya ada tiga (3) pendekatan perspektif yang dapat digunakan sebagai parameter antara lain :

1. Perspektif Historis.
Eksistensi Islam dalam sebuah Institusi negara Khilafah telah hadir mewarnai peradaban dunia saat itu yaitu dimulai pada awal abad ke-6 Masehi sampai pada awal abad ke-20 M. Khilafah telah menjadi sebuah wadah yang telah menampung dan menyatukan negeri-negeri Islam dari Spanyol hingga Indonesia sehingga menjadi kekuatan Adidaya dunia saat itu.
Setelah 13 abad keemasan, Daulah Khilafah, yang merupakan kesinambungan dari Daulah Islam (Negara Islam) yang di bangun oleh Rasulullah saw, di Madinah telah dihancurkan melalui tangan seorang manusia terkutuk Mustafa Kamal pada tanggal 3 Maret 1924.yang bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 1342H itu, maka Daulah Khilafah yang selama ini telah membawa Islam ke seluruh penjuru dunia telah lenyap dari muka bumi. Sejak saat itu juga, lenyaplah sudah sebuah Daulah Islam yang selama kurang lebih 1400 tahun telah memberikan rahmat dan kedamaian kepada dunia secara umum dan umat Islam khususnya, lenyapnya sebuah Daulah Islam yang selama ini menghilangkan seluruh belenggu yang memisahkan dan mengerat umat manusia, seperti nasionalisme, patriotisme dan juga rasisme.
Adapun gambaran ringkas tentang Khilafah dari masa ke masa yang menjadi bukti historis mengenai eksistensinya, sebagai berikut :
- Masa kekhilafahan kaum Muslim di awali dengan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang berlangsung selama kurang lebih 30 tahun yang berlangsung dari tahun 11 H sampai 41 H ( 632-661 M). Pada periode ini, kaum Muslim telah meraih masa keemasan, khususnya pada masa Kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab hingga separuh dari masa kepemimpinan Utsman bin Affan. Khalifah terakhir pada periode ini adalah Hasan bin ‘Ali, cucu Rasulullah SAW.
- Masa Kekhilafahan Bani Umayah . Pada tahun 41 H, Khalifah Hasan bin Ali mengundurkan diri dari jabatan khalifah. Selanjutnya, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan dibaiat untuk menggantikan Hasan bin ‘Ali. Mulai saat itu, kekhilafahan memasuki masa kepemimpinan Bani Umayyah. Kepemimpinan Bani Umayyah berlangsung selama kurang lebih 91 tahun, dari tahun 41 H sampai 132 H (661-749M), dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Pada masa ini, banyak negeri yang berhasil ditaklukkan. Di antaranya, di sebelah timur sampai ke negeri Cina; di sebelah barat sampai ke Andalusia (Spanyol) dan selatan Perancis.
- Masa Kepemimpinan Bani Abbasyah, setelah kepemimpinan Bani Umayyah berakhir pada tahun 132 H. Ini terjadi setelah  Marwan bin Muhammad mengalami kekalahan dalam Perang Zab, melawan pasukan yang dipimpin Abu Abbas as-Saffah dari Bani Abbasiyah. Sejak saat itu kekhilafahan beralih ke Bani Abbasiyah. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah berlangsung selama kurang lebih 783 tahun yaitu dari tahun 132 H sampai 918 H (749 – 1512). Khalifah pertamanya adalah Abu Abbas as-Saffah dan yang terakhir adalah al-Mutawakkil ‘Alallah. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan yang berpusat di Mesir. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah yang perpusat di Mesir berakhir tahun 918 H. Ini terjadi ketika kondisi politik saat itu sudah sangat tidak stabil.
- Selanjutnya Kepemimpinan dilanjutkan oleh Khilafah Utsmaniyah yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, sekitar 424 tahun, dari tahun 918-1342 H (1512-1924 M). Khalifah pertamanya adalah Salim al-Ula dan yang terakhir adalah ‘Abdul Majid ats-Tsani. Banyak prestasi yang berhasil diraih Kekhilafahan Utsmaniah, di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel. Mereka telah mendatangi Eropa sampai di Austria, lalu mengepungnya lebih dari dua kali. Negeri-negeri Eropa yang  berhasil dikuasai antara lain Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, dan Bulgaria. Mereka juga telah menguasai seluruh kepulauan di Laut Tengah dan menariknya ke dalam pangkuan Islam.
Eksistensi Khilafah dalam sejarah peradaban diakui pun oleh cendikiawan dan sejarawanbarat, Will Durant memberikan apresiasi yang luar biasa terhadapnya beliau mengatakan, “Sepanjang masa Kekhilafahan Islam para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant The Story of Civilization).
Sementara itu, ketika mendiskusikan Kekhilafahan Islam yang terakhir, yakni Kekhilafahan Utsmani, Paul Kennedy menulis, “Empirium Utsmani adalah lebih dari sekadar mesin militer; dia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Empirum Romawi dan untuk jumlah penduduk yang lebih besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan." (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000).

2. Perspektif Normatif
Keyakinan akan tegaknya kembali Khilafah Jilid II bukanlah sekedar fantasi sebagaimana tuduhan dari beberapa pihak, namun sebuah keyakinan yang ditopang oleh empat perkara:
Pertama, jaminan dari Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih untuk memberikan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang pernah diberikan kepada para pendahulu mereka.
   Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa;  akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).
Kedua, kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa akan kembalinya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwwah (berdasarkan metode kenabian), setelah fase penguasa diktator pada zaman kita ini., Nabi saw. Bersabda, sebagaimana dituturkan Hudzaifah al-Yaman:
“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).
Ketiga, umat Islam yang hidup dan dinamis tentu akan menyambut perjuangan bagi tegaknya Khilafah dan siap mendukung perjuangan ini hingga Allah mewujudkan janji-Nya. Setelah itu, mereka akan bekerja keras merapatkan barisan untuk menjaga Khilafah. Karena Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang dimandat oleh Allah untuk menyandang Predikat sebagai umat terbaik (khayru ummah), yang akan selalu bergerak untuk mewujudkan predikat itu. Allah SWT berfirman:
Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali 'Imran [3]: 110).
Keempat, adanya partai (hizb) yang konsisten dan ikhlas, yang terus menerus bekerja kerasa tanpa kenal lelah semata-mata demi tegaknya Khilafah untuk menjemput janji Allah serta kabar gembira dari Rasulullah saw hingga benar-benar terwujud. Partai itu, sikapnya lurus, tidak pernah takut terhadap cacian orang yang mencaci, tidak bermanis muka, tidak berbelok-belok serta tekadnya sekuat baja sampai cita-citanya tercapai. Sebagaimana sabda Nabi saw., yang dikeluarkan oleh Muslim dan Tsauban:
Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu.
Sesungguhnya berdasarkan satu faktor di atas saja cukup untuk menyatakan bahwa perjuangan demi tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Lalu bagaimana jika keempat fakta tersebut menyatu?
3. Perspektif Faktual
Realitas faktual menunjukkan dunia sedang menuju proses unifikasi sebagai respon terhadap agenda globalisasi baik politik, militer dan ekonomi maupun solidariritas, sebagai contoh negara-negara eropa telah membentuk Uni Eropa yang diawali dari kerjasama ekonomi dengan membentuk mata uang bersama yang digunakan untuk transaksi antar negara. Bahkan keberadaan mata uang uero terbukti telah memberikan pukulan yang cukup menyakitkan kepada mata uang dollar maka akibatnya dollar mulai melemah. Demikian juga dibidang militer negara-negara Atlantik Utara membentuk aliansi pertahanan bersama yaitu NATO yang dibentuk sebagai Respon terhadap kekuatan militer Uni soviet saat itu sebagaimana kita ketahui bahwa dunia dalam suasana perang dingin antara Blok barat kapitalis VS Blok timur sosialis komunis. Di sisi lain umat Islam berkeyakinan bahwa umat Islam wajib bersatu, dan keyakinan tersebut sangat di pahami betul oleh barat sehingga berusaha membentuk dan merekayasa organisasi persatuan yang semu yaitu OKI yang tidak punya power dan gigi untuk menjaga dan melindungi Islam dan kaum Muslimin sekaligus memalingkan ummat dari persatuan yang mempunyai kekuatan politik dan spritual ummat Islam. (Oleh Saifullah, UKM LDK LDM UMI Makassar)

http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/952-rekonstruksi-dan-reunifikasi-kekuatan-dunia-islam-bagian-3-selesai-.html

Rekonstruksi Dan Reunifikasi Kekuatan Dunia Islam (Bagian II)


Langkah kongkrit untuk merekonstruksi kekuatan dunia Islam.
 
Seiring dengan meningkatnya kesadaran Umat Islam tentang kondisi kemunduran, ketertindasan yang menimpa mereka serta ketidakberdayaan dalam menghadapi keangkuhan dan monopoli politik Global Kapitalisme yang dinahkodai oleh Amerika Serikat secara terus menerus sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong keinginan umat Islam untuk bersatu yang kian hari semakin meningkat. Indikasi tersebut setidaknya bisa kita lihat dari maraknya gerakan-gerakan Revivalis Islam yang ada seperti Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, Ansarut Tauhid dll. Keberadaan mereka tidak bisa dianggap sebagai sebuah perpecahan namun harus dipandang sebagai sebuah wujud tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam rangka membangkitkan umat dari kemerosotan yang amat parah.

Untuk menuju reunifikasi kekuatan dunia Islam maka terlebih dahulu membangun kembali istitusi kekuatan umat Islam yaitu Daulah Khilafah yang sebelumnya telah pernah eksis kurang lebih 13 Abad yang hadir memimpin peradaban dunia sekaligus peradaban terlama sepanjang sejarah peradaban manusia. Dengan berdirinya Istitusi Daulah Khilafah yang akan menjadi embrio untuk merangkul dan menarik kembali seluruh negeri Islam yang hidup berantakan saat ini kedalam pusaran Institusi pemersatu kaum Muslimin tersebut.

Langkah-langkah perjuangan yang diperlukan untuk membangun kekuatan islam, antara lain :
1. Edukasi (Tasqif) .
langkah awal adalah dengan melakukan edukasi untuk memberikan penyadaran dan pencerahan terhadap kader-kader dakwah dengan tsaqofah (pemikiran) Islam yang cemerlang. Upaya ini ditujukan untuk menyiapkan kader untuk membangun kemampuan dalam bertahan dan menyerang secara intelektual terhadap berbagai praktek politik dan pemikiran yang bertentangan dengan Islam serta. Edukasi juga dimaksudkan untuk membangun kematangan dan membangkitkan militansi kader tersebut sehingga mampu bertahan dengan penuh kesabaran dalam mengarungi medan juang yang sangat terjal.
Secara umum ada dua macam bentuk edukasi yang dilakukan, yaitu :
a. Edukasi intensif ( Tasqif Murakkazah)
Secara intensif harus dilakukan bimbingan dengan menanamkan aqidah Islam dan syariah Islam yang totalitas (komprehensif). Sehingga mereka sebelum terjun ke masyarakat sudah siap dengan solusi-solusi yang nyata untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di tengah-tengah umat. Secara praktis aktivitas ini bisa dilakukan dengan bersandarkan pada halqoh-halqoh (kelompok kecil yang terdiri atas beberapa orang) dimana dalam aktivitas tersebut dengan memberikan pencerdasan dan pencerahan sistematik serta terarah melalui pengkajian secara mendalam terhadap pemikiran-pemikiran Islam.
b. Edukasi Kolektif (Tasqif Jama’iyah)
Edukasi kolektif ini dilakukakan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya penerapan syariah Islam secara kaffah oleh Daulah Khilafah Islam. Hal ini dilakukan dengan cara membina umat dengan tsaqofah Islam (pemikiran Islam), meleburkan dengan Islam, membebaskannya dari akidah rusak, pemikiran keliru serta pandangan-pandangan kufur. Membangun kesadaran umat ini adalah sangat penting. Sebab tidak akan terjadi perubahan yang mendasar di tengah-tengah umat kalau tidak terjadi perubahan kesadaran masyarakat. Perjuangan penegakan institusi kekuatan dan politik Khilafah haruslah dilakukan melalui umat dalam pengertian didukung oleh kesadaran umat. Karena yang ingin dibangun bukan sembarang pemerintahan namun sebuah pemerintahan yang didasarkan pada pemikiran yang matang dan cemerlang.

Edukasi ini dilakukan dengan pengajian-pengajian umum, khutbah jum’at, seminar, diskusi publik, debat terbuka. Termasuk lewat media masa seperti radio, televisi, surat kabar, majalah dan lainnya. Dari aktivitas ini dimaksudkan untuk melahirkan kesadaran umat untuk diatur semata-mata oleh syariat Islam. Kesadaran umat ini yang mendorong mereka untuk menuntut perubahan sistem negara yang jauh menyimpang dari Islam.
2. Interaksi dengan Masyarakat (Tafa'ul Ma'a Al Ummah)
Adapun Interaksi terwujud dalam beberapa bentuk antara lain :
a. Interaksi Pemikiran adalah bentuk interaksi yang ditujukan untuk melakukan pertarungan secara intelektual terhadap segala macam pemikiran yang kontradiksi secara diametarl dengan pemikiran Islam yang saat ini sedang mendominasi dan mengotori pemikiran umat seperti demokrasi, sekularisme, kapitalisme, sosialisme, pluralisme dll. Upaya tersebut dilakukan dengan membongkar dan mengungkap kesalahan serta kebusukan mengenai bahaya yang terkandung dalam pemikiran tersebut kepada umat setelah berhasil melumpuhkan pemikiran tersebut maka selanjutnya adalah menyampaikan pemikiran Islam yang cemerlang untuk menggantikan pemikiran kufur tersebut. Jadi interaksi ini dimaksudkan untuk mengupas berbagai metode dan instrumen yang digunakan oleh barat untuk mencengkram umat Islam.
b. Interaksi Politik adalah bentuk interaksi yang diarahkan untuk membongkar berbagai macam konspirasi yang dilakukan oleh penguasa terhadap rakyatnya, baik konspirasi antara penguasa dengan pengusaha atau kelompok lokal dimana kebijakan tersebut sangat berbahaya dan merugikan umat serta pertentangannya dengan hukum syara'. Demikian juga konspirasi yang dilakukan penguasa dengan kepentingan politik global harus terus menerus diungkap agar umat semakin menyadari tentang siapa sebenarnya penguasa yang mereka dudukkan disinggasana kekuasaan. Barat dan penguasa kaki tangan mereka senantiasa melakukan manuver dan strategi untuk mengokohkan cengkramanannya (baca: Penjajahan) sebagaimana yang saat ini mereka lakonkan dengan isu terorisme sebagai upaya stigmatisasi terhadap umat Islam dengan tuduhan yang dipaksakan bahwa pelaku terorisme ingin mendirikan Daulah Islamiyah serta menolak demokrasi. Singkatnya bahwa interaksi ini dimaksudkan untuk menyerang srategi yang digunakan oleh barat untuk mempertahankan cengkramannya terhadap umat Islam.
c. Merebut opini umum, disamping interaksi politik dan intelektual yang berlangsung secara sengit dan terus menerus pada saat yang sama gagasan tentang Syariah dan Khilafah terus dipropagandakan maka tentunya ketika masyarakat mendengar istilah tersebut akan melahirkan banyak persepsi baik berupa pertanyaan maupun pernyataan seperti: apa yang dimaksud dengan Khilafah? Khilafah utopis? Sampai pada bagaimana metode menegakkan khilafah, nah hal seperti ini adalah sebuah respon dari masyarakat dan menjadi 'entri point” untuk menjelaskan tentang Khilafah dan urgensinya sehingga kian lama kerinduan umat semakin tidak terbendung dan pada saat yang sama kepercayaan masyarakat kepada sistem yang lama (baca : demokrasi) semakin melemah hingga akhirnya bisa dilumpuhkan.
3. Memobilisasi dukungan dari simpul-simpul Massa. (Thalabun Nusrah)
Mobilisasi diarahkan untuk meminta dukungan kepada simpul-simpul kekuatan dan simpul-simpul umat dalam konteks perlindungan terhadap Islam dan Umat Islam sebagaimana Rasulullah meminta dukungan kepada para pemegang simpul-simpul kekuatan saat itu yang termanifestasi dalam bentuk kepala kabilah. Dalam kitab sirah Nabawi Karangan Ibnu Hisyam setidaknya ada 18 kabilah yang dikontak oleh Rasulullah untuk memberikan perlindungan terhadap islam, ada yang menolak secara halus namun ada juga yang menolak secara keras sebagaimana perlakukan penguasa Thaif dengan memerintahkan kepada para anak-anak untuk melempari Rasulullah dengan batu sampai beliau berdarah. Sekalipun perlakuan yang tidak manusiawi dari berbagai kabilah, namun Rasulullah tidak pernah berhenti untuk melakukan aktivitas tersebut, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut wajib serta satu-satunya jalan untuk meraih kekuasaan dari pemegang kendali kekuasaan ditengah-tengah umat. Dan dengan pertolongan Allah datang dari madinah lewat Suku Aus dan Khazraj. (Bersambung) (Oleh : Safullah UKM LDK LDM UMI Makassar).
http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/925-rekonstruksi-dan-reunifikasi-kekuatan-dunia-islam-bagian-ii-.html

Rekonstruksi Dan Reunifikasi Kekuatan Dunia Islam (Bagian I)

Add caption
Runtuhnya institusi Negara Khilafah pada tanggal 3 maret 1924 merupakan bencana dan pukulan yang sangat mematikan terhadap Islam dan Umat Islam. Berbagai bencana silih berganti menimpa umat Islam. Ikatan Aqidah sebagai Ikatan pemersatu kaum muslim tidak lagi terwadahi dan tergantikan oleh ikatan kebangsaan. Akibatnya, umat Islam hidup berantakan dan dikerat-kerat menjadi Negara yang kerdil dan tidak berdaya. Sebagai bukti nyata dimana didepan mata Umat islam dan penguasa negeri kaum Muslimin, Israel mempertontonkan secara vulgar kebiadaban dan pembataian terhadap warga Palestina namun apa respon mereka jangankan mengirimkan Pasukan untuk menolong saudara se-Aqidah namun mengecam saja tidak mampu. Padahal tentara kaum Muslimin memiliki jumlah yang sangat banyak sehingga bisa mengepung dan dan menghancurkan entitas yahudi dalam sekejap.

Bahkan lebih menyakitkan lagi banyak penguasa negeri Muslim justru memasang dada untuk membela sang penjagal entitas Yahudi dan pada saat yang sama mengerangkeng dan mengisolasi warga Gaza.

Di berbagai belahan bumi yang lain umat Islam seperti Irak, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan, Ethiopia, Sudan, Pattani, Mindanao, Rohingya dll. Hingga saat ini berada dalam masalah yang tak pernah terselesaikan ini menjadi bukti bahwa penguasa negeri-negri kaum Muslimin sangat Tumpul.

Penyebab kemunduran Kaum Muslimin.

Puncak dari kemunduran kaum Muslimin adalah ketika Institusi yang menjadi penopang dan penjaga islam berhasil di Abolisi oleh Kafir penjajah melalui antek mereka yaitu Mustafa kemal Attartuk seorang keturunan yahudi yang sengaja di susupkan untuk menjalankan agenda jahat penjajah barat. Terlepas dari itu, secara garis besar ada dua faktor yang menjadi penyebab keruntuhan Institusi Khilafah antara lain :

1. Faktor Internal.

Sejak di tutupnya pintu Ijtihad sebagai sebuah metode untuk menggali hukum-hukum Islam dalam rangka memberikan jawaban den penjelasan terhadap persoalan-persolan kontemporer. Derasnya arus Barat yang menghembus dan menyusup kedalam tubuh kaum Muslimin menyebabkan kaum Muslimin mengalami kebingungan yang luar biasa sehingga tanggapan terhadap barat pun sangat beragam, ada yang menanggapinya dengan menolak secara keseluruhan namun ada juga yang menerima. Disamping itu lemahnya pemahaman umat terhadap islam yang amat parah ,yang menajalar kedalam pikiran umat secara tiba-tiba. Ini. Berawal tatkala bahasa Arab mulai diremehkan peranannya untuk memahami islam sejak awal abad VII Hijriah, sehingga kekuatan yang dimiliki bahasa Arab dengan kharisma Islam terpisah. ( Lihat : Mafahim Hizbut tahrir, hal 5)

Jadi kelihatan sangat jelas bahwa kaum Muslimin mundur pada saat mereka tidak lagi konsisten untuk mempertahankan Ideologinya .

2. Faktor Eksternal.

Sejak kekalahan Eropa dalam perang salib ketiga mereka mulai menyadari bahwa mustahil mengalahkan kaum muslimin dengan pendekatan hard power sehingga mulai mengubah pola penyerangan dan penghancuran terhadap Islam dan Kaum Muslimin dengan pendekatan Sofh Power. Dengan pendekatan tersebut, mereka lebih mudah dan leluasa untuk masuk kedalam Khilafah dan stretegi ini pertama kali dilakonkan oleh para misionaris dengan modus mendirikan sekolah untuk mendidik dan mengacaukan pemikiran generasi islam.

Tidak berhenti sampai disitu barat terus melakukan makar setelah mengacaukan dan mengancurkan konstruksi pemikian islam tahap selanjutnya adalah dengan melakukan pelemahan terhadap daulah khilafah, setelah melihat ada celah didalam tubuh daulah maka mereka melakukan politik pecah belah yaitu mempropagandakan paham nasionalisme untuk membangkitkan sentimen antara Turki dan Arab.

Sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama dan intelektual Islam. Bermula dari munculnya berbagai propaganda ke arah nasionalisme yang dipelopori oleh Partai Persatuan dan Pengembangan, mereka memulai gerakannya dengan men-Turki-kan Daulah Utsmaniah di Turki. Untuk menopang dakwahnya ini, mereka menjadikan serigala (sesembahan bangsa Turki sebelum datangnya Islam) sebagai syiar dari gerakannya tersebut. (Muhammad Muhammad Husain, Ittijâhât Wathaniyah, II.85).

Mungkin hal yang terpenting adalah kelompok yang bergerak untuk menyebarkan paham nasionalisme, mereka tidak mempunyai gerakan yang berarti untuk meruntuhkan Daulah Islamiyah kecuali dengan “menyebarkan paham nasionalisme”. Oleh karena itu, mereka bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Ternyata paham nasionalisme tersebut merupakan unsur terpenting di dalam melemahkan kekuatan Daulah Islamiyah, karena umat Islam, dengan nasionalisme, akan tercerai-berai, saling berselisih; masing-masing ingin bergabung dengan suku dan kelompoknya, ingin melepaskan diri dari kekuasaan Daulah. Cukuplah dengan gerakan untuk memisahkan diri tersebut akan terkotak-kotaklah kekuatan umat. Dengan demikian, Daulah akan melemah dan terputus jaringannya dan akhirnya ambruk…Begitulah yang terjadi. (Mahmud Syakir, Târîkh Islâm, Al-Maktab Islami, 1991 M, VIII/122).

Dengan bangkitnya semangat nasionalisme dikalangan warga Muslim Turki demikian juga dikalangan warga muslim Arab sehingga akibatnya orang-otang arab mengatakan bahwa kita dijajah oleh orang-orang turki demikian juga dikalangan orang-orang Turki mengatakan bahwa orang-orang Arab berkeinginan untuk merampas kekuasaan dari Orang-orang turki, jadi strategi barat berhasil melemahkan persatuan umat islam.

Potensi kekuatan kaum Muslimin

Untuk membangun sebuah kekuatan yang besar maka tentunya dibutuhkan faktor-faktor yang akan mendukung kekuatan tersebut, maka untuk itulah terlebih dahulu mengintip potensi kekuatan yang di miliki umat islam.

Dalam The Military Balance, 1989, 1990, juga disebutkan bagaimana peta kekuatan yang dimiliki kaum Muslim saat Khilafah ini berdiri. Umat Islam akan memiliki paling tidak 5,5 juta pasukan operasional, sekitar 4 juta pasukan cadangan, sekita 18 juta warga negara yang siap menjalani wajib militer (yang jumlahnya selalu meningkat setiap tahun seiiring terjadinya pertumbuhan kaum Muslim).

Selain itu, kaum Muslim juga menguasai sedikitnya 5.000 pesawat tempur, sekitar 27.000 tank, divisi-divisi infantri, sejumlah besar fregat, kapal selam, kapal-kapal kelas perusak, berbagai misil balistik, misil berhulu ledak konvensional, misil berhulu ledak non-konvensional – termasuk berhulu ledak thermo-nuklir. Belum lagi sejumlah lokasi pangkalan angkatan laut dan pangkalan angkatan udara yang paling strategis di dunia.

Potensi umat Islam untuk menjadi Negara Adidaya tak hanya sebatas itu. Kaum Muslim juga mengusai sumberdaya yang dibutuhkan untuk menjadikan mereka sebagai umat yang paling maju dalam bidang teknologi militer. Sumberdaya itu meliputi sumberdaya intelektual, sumberdaya material, potensi industri, dan sumberdaya manusia. Umat Islam memegang kendali atas 60% deposit minyak seluruh dunia. Umat Islam juga memegang kendali atas bagian yang besar dari deposit Boron (49%), Fosfat (50%), Strontium (27%), Timah (22%), dan Uranium. Umat Islam juga mempunyai sumberdaya intelektual dan tenaga ahli yang terbaik di dunia dalam jumlah yang melimpah. Sebagai contoh, Mesir mempunyai lebih dari 500.000 ilmuan dan insinyur, Turki sekitar 330.000, Malaysia 300.000, Pakistan sekitar 140.000, dan Indonesia paling tidak 100.000, dan lain-lain, hingga mencapai total sekitar 1,2 juta ilmuan ditambah sekitar 32.000 pakar riset dan pengembangan. (Some El-ementary Scienceometric Studies; A Study of Science and Technology Manpower Patterns vis-a-vis Population and GNP in the Muslim World, oleh M.M. Qurayshi dan S.M. Jafar, 1978).

Asep Syamsul mencatat warisan nuklir Uni Soviet sebagian telah jatuh ke negeri mayoritas berpenduduk muslim di Asia Tengah Kazakstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbeizan, Tajikistan dan Kirgistan. Bahkan sekitar 943 % atau setara dgn 1.150 rudal balistik diwarisi Kazakstan. Terhadap ini Doff Zakem menulis di Washington Pos 14 Januari 1992 “Inilah utk pertama kalinya Israel mendapati dirinya dalam ancaman.” Memang dengan senjata nuklir Kazakstan dapat mulumatkan Israel dalam beberapa menit saja.

Pakistan diperkirakan sedang memproses 70-90 senjata nuklir, demikian pula India diyakini sedang mengembangkan 60-80 senjata nuklir, kata Robert S Norris dan Hans M Kristensen, dalam artikel terbaru mereka berjudul, "Nuclear Notebook: Worldwide deployments of nuclear weapons, 2009", sebagaimana dikutip dari PTI-OANA. Negeri muslim lain yg juga mengembangkan nuklir seperti Iran, Libya dan Surya.

Dengan potensi kekuatan kaum Muslimin yang ada maka peluang untuk menjadi kekuatan Adidaya dunia sangat terbuka lebar tinggal persoalannya adalah bagaimana meramu kekuatan yang ada untuk menyatu dalam satu konsentrasi. (Bersambung) (Oleh : Saifullah, UKM LDK LDM UMI Makassar).

http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/902-rekonstruksi-dan-reunifikasi-kekuatan-dunia-islam-bagian-i.html

Minggu, 25 Juli 2010

Sehelai Kain Mengguncang Peradaban Barat


Semangat anti Islam terus di kumandangkan oleh Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin khususnya Eropa. Setidaknya kita bisa melihat dari upaya-upaya untuk berusaha melarang penggunaan simbol-simbol yang berkaitan dengan Islam seperti Pelarangan Jilbab disekolah-sekolah, Kampanye anti menara Masjid. Sampai pelarangan Niqab.

Parlemen Dewan Perwakilan Perancis akhirnya menyetujui kebijakan pelarangan jilbab Islam seperti
burqa pada Selasa (13/07) sebuah gerakan yang sangat terkenal di antara para pemilih Perancis meskipun terdapat kekhawatiran yang serius dari kelompok Muslim dan pendukung hak-hak asasi manusia.

Terdapat 336 pemilih untuk rancangan undang-undang tersebut dan hanya satu yang menentangnya di dalam Majelis Nasional. Sebagian besar anggota dari kelompok oposisi utama, Partai Sosialis, menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut – walaupun mereka mendukung pelarangan tersebut, mereka memilki banyak perbedaan dengan presiden dari Partai Konservatif Nicolas Sarkozy atas beberapa aspek dari rancangan undang-undang tersebut. (www.suaramedia.com 14/07/2010)

Denmark juga ikut melarang pemakaian burka dan niqab. Perdana Menteri Denmark, Lars Loekke Rasmussen, mengatakan busana perempuan muslim yang menutup hampir seluruh tubuh, kecuali mata, tidak punya tempat dalam masyarakat Denmark. Rasmussen mengatakan, pemerintahannya
yang berhaluan tengah-kanan sedang mencari cara untuk membatasi pemakaian burka dan niqab tanpa melanggar konstitusi negara Skandinavia tersebut seperti di kutip laman The Herald Sun, Rabu 20 Januari 2010.

Larangan Burqa dan niqab makin meluas di Eropa. Setelah Prancis, Denmark dan Belanda, Belgia juga akan menerapkan kebijakan yang sama. Komite Dalam Negeri di Parlemen Belgia sudah melakukan voting untuk menerapkan larangan cadar di tempat-tempat umum di seluruh wilayah negara itu.

Pertanyaannya kenapa Eropa begitu murka dengan penggunaan busana Muslimah? Bukankah mereka menganut prinsip-prinsip kebebasan yang memberikan ruang kepada individu untuk mengatur mengenai hal-hal yang sifatnya privasi? Padahal jumlah populasi Muslimah yang menggunakan Niqab dan Burqa sangatlah kecil sehingga sangat tidak relevan dan proporsional ketika lembaga eksekutif maupun legislatif begitu gelisah dengan hal tersebut.

Bahkan menurut sebuah laporan dari University of Copenhagen mengenai jumlah pemakai burka di Denmark dipublikasikan. Jumlah perempuan pemakai burka disebutkan sangat jarang. Sedangkan perempuan muslim pemakai niqab ada sekitar 100 hingga 200 orang. Demikian halnya Prancis merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di Eropa. Di sini terdapat sekitar 5 juta muslim di antara 64 juta penduduk Prancis. Tapi dari  berbagai penelitian, jumlah wanita pemakai burqa/niqab hanya 1900 orang. Di Belgia menurut data pemerintah , jumlah perempuan yang mengenakan cadar antara 300 dan 400 perempuan, sementara jumlah Muslim secara keseluruhan diperkirakan mencapai 281 ribu orang muslim, atau di atas 3 persen dari populasi Belgia.

Sesungguhnya apa yang terjadi di Barat adalah terlalu lugu kalau hanya sekedar memaknai sebagai pelarangan Jilbab, pelarangan Menara Masjid dan pelarangan Burqa (niqab), namun sesungguhnya adalah bentuk pengejewantahan dari perang antar peradaban (clash of civilization) yang jauh sebelumnya telah di prediksikan oleh Samuel Huntington ahli Futuristik Amerika Serikat dalam bukunya The Clash Of Civilization yang dengan tegas mengatakan bahwa musuh sesungguhnya Kapitalisme di masa yang akan datang adalah revivalisme Islam.

Barat mulai menyadari tentang revivalis Islam sehingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Tindakan-tindakan nyata yang dilakukan Eropa dan warganya merupakan bentuk dari ketakutan terhadap Islam. Sebagai Contoh masalah itu bisa kita lihat dalam kasus pembunuhan terhadap seorang perempuan berjilbab asal Mesir di pengadilan Jerman. Marwah Al-Sherbini mengadu ke pengadilan Dresden menjadi korban aksi kekerasan berbau rasis seorang lelaki Jerman. Tragisnya, perempuan berjilbab itu justru dibunuh dengan 18 kali tusukan pisau saat sidang pengadilan tengah berlangsung. Ironisnya lagi, pemerintah dan kalangan media massa Jerman justru berupaya menutup-nutupi peristiwa mengenaskan tersebut. Syahid Jilbab asal Mesir itu terbunuh saat ia hamil sementara suaminya yang berupaya menyelamatkan sang istri justru menjadi sasaran tembakan polisi.

Untuk itulah kaum Muslimin harus menyadari tentang adegan-adegan yang sedang dilakonkan dan dipertontontakan oleh Barat, bahwa sesungguhnya mereka sedang menabu genderang perang terhadap Islam dan Kaum Muslimin, maka kita pun harus menyambutnya dengan membangun kekuatan dan persatuan dalam Insitusi Negara khilafah. Hanya dengan Khilafah sebagai sebuah institusi Adidaya umat Islam yang mampu meladeni tantangan tersebut, sekaligus menghancurkan Insitusi peradaban barat. Dengan keberadan Khalifah ditengah-tengah Umat yang akan membela dan menjaga kehormatan kaum Muslimin. Sejarah telah mencatat ketika seorang wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh tentara Romawi, kemudian wanita Muslimah tersebut berteriak memanggil wahai Al Mu’Tasim dimanakah engkau? Panggilan tersebut akhirnya sampai ke telingah Khalifah Al Mu’tasim Billah seketika itu juga meresponnya dengan mengirimkan pasukan dan beliau sendiri yang memimpinnya untuk membela kehormatan wanita Muslimah tersebut dimana kepala pasukan sudah sampai di kota Amuria sedangkan ekornya masih di Bagdaq, dan akhirnya berhasil membunuh 30.000 Pasukan Romawi serta kota Amuria berhasil ditaklukkan. Allahu Akbar. (Saifullah Korwil BKLDK Sulawesi Selatan & Barat)

http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/1128-sehelai-kain-mengguncang-peradaban-barat.html

KHILAFAH SEMAKIN MENGGEROGOTI JANTUNG KAPITALISME.


Perjuangan dan opini tentang Khilafah semakin hari semakin bergema mewarnai wacana-wacana perkembangan politik global baik cendikiawan Muslim maupun barat, ulama, Agen intelejen sampai media Massa baik lokal maupun internasional. Dimana ide ini sebelumnya dianggap sebagai gagasan yang Absurd dan utopis namun seiring perjalanan waktu serta perjuangan dan kerja keras yg terus-menerus melakukan mobilisasi ide tersebut sehingga menjadikan gagasan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebelah mata, ibarat bola salju semakin hari semakin menggelinding dan bertambah besar sehingga tidak bisa lagi terbendung walaupun barat berusaha untuk menghadang dan membendung gagasan tersebut, namun sebaliknya ide Khilafah kian hari semakin mengikis dan menggorogoti jantung kapitalisme dan institusi peradaban barat.

Pada saat yang sama barat menyadari hal tersebut sehingga membuat mereka kebakaran jenggot dan semakin ketakutan melihat derasnya arus opini Syariah dan Khilafah. Apalagi akhir-akhirini media-media Internasional gencar menjadikan Khilafah sebagai topik perbicangan yang hangat dan tentunya mengundang prokontra mengingat Khilafah adalah sebuah gagasan yang bertentangan secara Diametral dengan Kapitalisme barat dan derivasinya.

Rangkain kegiatan di bulan Rajab yang diadakan oleh Hizbut Tahrir dalam rangka mengingatkan kembali kaum Muslimin tentang sebuah peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 28 Rajab yaitu abolisi terhadap institusi kekuatan dan pemersatu kaum Muslimin bahwa kaum muslimin pernah menjadi negara adidaya yang tentaranya tak terkalahkan oleh negara manapun pada saat itu serta ketiadaan institusi tersebut adalah sebuah malapetaka besar yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi bulan-bulanan persis sebagaimana yg digambarkan oleh hadis Nabi 14 Abad yang lalu beliau bersabda :
“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah).

Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk Konferensi yang dilaksanakan selama bulan Rajab di seluruh dunia mulai dari benua Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Namun tentunya yang paling menarik dan menjadi perdebatan adalah pelaksanaan konferensi tersebut di negara yang menjadi jantung Kapitalisme.
Kebangkitan Islam di Barat terus meningkat. Hal itu diakui oleh para politisi Barat. Terlebih lagi ketika dakwah terhadap Islam, Syariah dan Khilafah secara terbuka terus menggema dan terorganisir dilakukan sebuah kelompok dakwah global. Tentu saja para pemuja liberalisme dan kapitalisme pun merasa terancam. Kehadiran Islam dikhawatirkan dapat menggulingkan peradaban kapitalis yang telah tampak kerusakkannya itu.
Seorang aktivis politikus konservatif mengatakan kecenderungan pro-Islam Obama merupakan penyebab kelompok-kelompok Islam yang ia sebut radikal menjadi begitu berani secara terbuka untuk mengadakan konferensi di wilayah Amerika Serikat yang menyerukan pendirian sistem pemerintahan Islam global.

Chad Groening dalam OneNewsNow mengatakan bahwa pada tanggal 11 Juli Hizbut Tahrir Amerika (HTA) yang ia sebut sebagai kelompok Islam radikal mengadakan Kampanye Global Khilafah tahunan yang kedua di pinggiran Chicago untuk seruan akhir dari kapitalisme.

Tema yang diangkat tahun lalu adalah "Kejatuhan Kapitalisme & Kebangkitan Islam", sekitar 500 orang ikut serta. Tapi tahun ini, menurut Groening, kelompok tersebut telah menyediakan tempat ballroom 11.000 kaki persegi, berharap dapat menampung lebih dari seribu peserta. Konferensi tahun ini mengangkat tema "Emerging World Order: How the Khilafah Will Shape the World'".

Seperti biasa, para politis barat merasa risih dan kebakaran jenggot dengan meningkatnya seruan penegakkan Islam, Syariah dan Khilafah itu. Beberapa upaya dilakukan untuk membungkam seruan dakwah yang dilakukan oleh gerakan yang aktif menyadarkan umat itu.

Demikian juga di Benua Kanguru, Sebagaimana yang dipublikasikan oleh beberapa media bahwa Pasca Konferensi Khilafah di Australia dimana dihadiri 1000 peserta bertempat di barat Sydney, pada hari Ahad, 04/07/2010. Islam, Syariah dan Khilafah Menjadi Perbincangan di Australia Sekitar . Ketakutan para Islamophobia sangat tampak, usai pemberitaan Konferensi Khilafah di media Australia yang menuliskan seruan bagi kaum Muslim Australia meninggalkan demokrasi, serta merta, politisi Australia bermaksud melakukan pelarangan atas Hizbut Tahrir.

Melanie Philips seorang penulis Daily Mail Inggris merasa kebakaran jenggot atas berlangsungnya konferensi khilafah di benua Aussie tersebut. Ia menulis opininya di media The Australian berjudul "Jihadist group a threat to us all". Seperti biasa, tuduhan palsu berulangkali dipaksakan untuk menghubungkan Hizbut Tahrir dengan gerakan terorisme. Tetapi, lagi-lagi, semua tulisannya itu hanya semakin menampakkan kepalsuan dan tuduhan paksa oleh seorang penulis atas partai Islam global yang secara terus terang menyatakan dirinya berjuang tanpa kekerasan. Bahkan anggota parlemen federal Michael Johnson mengatakan bahwa penceremah ekstrimis Islam harus dilarang dari Australia. Ia juga menyerukan perdebatan tentang larangan burqa.

Berbagai penentangan dan pemboikotan terhadap perjuangan Khilafah justru semakin membuka kebusukan Barat yang semakin tidak konsisten dan mengkhianati prinsip-prinsip mereka sendiri yaitu kebebasan berbicara dan berekspresi. Serta Pada saat yang sama ide Syariah dan Khilafah semakin mendapat tempat di hati Umat. (Oleh Saifullah Korwil BKLDK SulselBar))
Referensi :
www.syabab.com

http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/1115-khilafah-semakin-menggerogoti-jantung-kapitalisme.html