Jumat, 06 Agustus 2010

KHILAFAH NEGARA HETEROGEN BUKAN NEGARA HOMOGEN

Sebuah Refleksi Pra-KONFERENSI UMAT ISLAM SULAWESI SELATAN DAN BARAT

Menjelang pelaksanaan konferensi Umat Islam dengan tema Refleksi Rajab, Sambut Ramadhan, Raih Kemenangan dengan Tegaknya Syariah dan Khilafah, yang akan dilaksanakan pada hari Ahad 1 Agustus 2010 bertempat di Tribun Lapangan Karebosi, maka kawan-kawan aktivis HTI chapter kampus Universitas Muslim Indonesia melakukan silaturrahmi serta bermaksud mengundang ketua Umum dan Pengurus serta Anggota HMI Mpo Cabang Makassar untuk menghadiri acara yang dimaksud. Pembicaraan diawali dengan menjelaskan maksud pelaksanaan kegiatan tersebut hingga melebar kepada diskusi seputar Khilafah, metodologi serta langkah praktis untuk mewujudkannya.

Dalam diskusi tersebut berbagai pertanyaan yang selama ini terpendam dalam benak kawan-kawan HMI akhirnya kesempatan tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkannya. Diskusi yang berlangsung santai dan penuh keakraban serta tetap dalam kerangka Ideologis, berlangsung sekitar dua jam dan banyak hal yang dipertanyakan namun karena ruang terbatas sehingga hanya point penting saja yang kami ke tengahkan, diantaranya sebagai berikut :

Mempertanyakan tentang korelasi antara pelaksanaan konferensi dengan perjuangan menegakkan Khilafah? pertanyaan tersebut langsung dijawab bahwa konferensi adalah sebuah upaya edukasi kepada ummat dengan mengangkat berbagai problematika yang ada khususnya pada level lokal, level Nasional dan level Internasional, dengan mengungkap fakta-fakta kerusakan yang ada, menjelaskan tentang akar masalah serta solusi Islam yang cerdas untuk menyelesaikannya.

Kemudian dilanjutkan dengan mempertanyakan relevansi khilafah dengan Indonesia mengingat kondisi sosial masyarakat yang sangat plural? Jawabannya : bahwa Khilafah adalah negara yang sifatnya heterogen bukan negara homogen sehingga tidak perlu ada kekhawatiran bahwa nantinya non-muslim akan dipaksa untuk masuk Islam, sebab Daulah Khilafah tidak memaksa dan menjamin non Muslim dalam masalah Aqidah untuk masuk Islam baik Kristen, Hiindu, Budha bahkan ateis semuanya berhak dan bebas menjalankan ritual ibadah mereka. Sejarah telah membuktikan Khilafah telah memberikan jaminan dan perlindungan kepada non Muslim yang hidup dalam negara Khilafah, bahkan Andalusia (Spanyol) terkenal dengan sebutan Espanol In three religion dimana tiga agama hidup berdampingan secara damai yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Namun dalam persoalan sosial masyarakat seperti hukum, Kriminal, pendidikan kesehatan dll, semuanya diatur oleh sistem Islam dan keamanan ditangan Kaum Muslimin, sebagai contoh dalam masalah kriminal seperti pencurian baik muslim maupun non muslim berhak mendapatkan perlakuan yang sama serta dihukum sesuai dengan syariat Islam.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan Khilafah sebagai ideologi transnasional ? Jawaban : bahwa sesungguhnya kita harus melihat persoalan kebangsaan secara utuh baik dari aspek, budaya, agama maupun sistem kenegaraan khususnya dalam kacamata historis dimana keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang sifatnya transnasional. Agama hindu yang ada tidak bisa dilepaskan dari persoalan transnasional yaitu India, demikian juga Budha yg latar belakang historisnya tidak bisa dipisahkan dengan Cina serta Agama Kristen baik Protestan maupun Khatolik yang dibawa masuk ke Indonesia oleh penjajah Belanda dan Portugis. Demikian juga dalam konteks Ideologi yang menjadi sumber inspirasi untuk mengatur dan mengelola tatanan kehidupan bernegara Indonesia tidak pernah lepas dari pengaruh ideologi yang sifatnya transnasional. Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diawali oleh rezim orde lama dibawah kendali presiden Soekarno yang menyeret indonesia lebih condong ke timur yaitu blok sosialis komunis. Orde baru pun yang saat itu di bawah nahkoda presiden soeharto Indonesia digeser untuk condong ke blok barat kapitalisme sekuler serta orde reformasi yang sementara berjalan dimana kapitalisme liberalisme yang semakin menggurita dan telah menggiring bangsa menuju collaps, ini pun merupakan ideologi transnasional dibawah kendali Amerika Serikat sang negara penjajah. pertanyaannya: Apa sih yang asli produk asli Indonesia? Mungkin yang asli produk Indonesia adalah budaya Koteka dan tradisi perang antara suku-suku di Papua serta praktek-praktek Animisme yang masih berlangsung diberbagai tempat.

Pertanyaan selanjutnya Bagaimana pandangannya tentang Islam kultural sebagaimana yang diwacanakan oleh berbagai ormas? Jawaban : bahwa kultur yang telah menjadi sebuah kebiasaan masyarakat adalah sebuah objek yang akan dinilai apakah benar atau salah. Lalu bagaimana ketika islam dipersentuhkan dengan persoalan kultur sosial masyarakat yang bertentangan dengan Islam seperti Koteka di Papua, lalu pertanyaannya adalah lantas apakah Islam mentoleransi dan memperbolehkan sholat dalam keadaan hanya menggunakan koteka? Maka jawabannya tentu tidak, justru yang dilakukan adalah memberikan edukasi agar mereka menutup aurat.

Dan terakhir mempertanyakan tentang cara mewujudkan Khilafah tersebut? Jawaban : Metode untuk menegakkannya tidak lain adalah melalui simpul-simpul kekuatan ditengah-tengah umat seperti Militer, Ulama, Pemikir dan Politikus Serta Media Massa, namun semuanya mesti diawali dari proses edukasi agar umat paham dengan syariah dan khilafah serta interaksi dengan umat tidak lain ditujukan untuk melakukan pergolakan pemikiran serta mobilisasi opini umum sehingga setelah tercipta kesadaran umum masyarakat tentang khilafah maka dengan sendirinya simpul-simpul massa akan cenderung bersikap sesuai dengan opini publik dan akan berpikir untuk beroposisi dengan opini publik. Wallahu A’lam Bi Ash-shawab (Alex Saifullah, BE Korwil BKLDK Sulawesi Selatan Dan Barat)

Catatan :
Diskusi telah di revisi namun tidak mengurangi substansi pembicaraan.

Rabu, 04 Agustus 2010

FAKTA FAKTA KEUNGGULAN ISLAM, KHILAFAH ISLAMIYAH MENGUASAI DUNIA


Ternyata tidak sedikit yang pada awalnya menyangsikan kemampuan Islam sebagai solusi.

Gema untuk kembali melanjutkan kehidupan islam semakin menguat disegala lini. Keinginan yang disuarakan oleh para ‘aktivis mahasiswa yang tercerahkan lulusan selasar masjid kampus di masa-masa yang lalu, sekarang telah disambut dan disuarakan pula oleh masyarakat umum, para akademisi, ulama, pengusaha dan kaum intelektual lainnya. Bahkan, dengan dakwah yang dibarengi hikmah dan hujjah yang kuat dari sumber pemikiran islam, kalangan militer pun sudah mulai terlihat dukungannya untuk menjadikan Islam sebagai solusi dari permasalahan bangsa ini. Dari anak-anak hingga orang yang sudah senja.

Kaum muslimin di segala lini tadi dan mendukung islam sebagai solusi alternative untuk keluar dari krisis multidimensi saat ini, ternyata tidak sedikit yang pada awalnya menyangsikan kemampuan Islam sebagai solusi. Bahkan ada yang pada awalnya menentang gagasan islam (syariat islam) sebagai solusi masalah manusia yang semakin hari semakin parah ini. Dari beberapa obrolan dengan para pejuang syariah ini – dari ulama, pengusaha hingga rakyat jelata- penulis mendapatkan informasi, mereka dulu kurang respon dalam memperjuangkan syariat islam sebagai solusi permasalahan bahkan mendiskreditkan para pejuangnya dikarenakan kekurangfahaman mereka tentang konsep islam yang syumuliyah, serta ketertutupan mereka untuk membuka diri terhadap informasi baru atau pandangan baru.

Persepsi yang selama ini terbangun, islam adalah sholat, zakat, puasa, shaum, haji dan sedikit istilah bisnis. Imbasnya, mereka memandang islam ini sebagai sesuatu yang ‘kecil’. Padahal islam adalah agama yang besar dan mempunyai sejarah yang luar biasa dan mulia apalagi kalau dibandingkan dengan peradaban lain. Kalau orang benci kepada islam pasti kejelekan yang disampaikannya, namun mari kita lihat sisi lain dan tepat dalam memandang islam.
Berikut gambaran singkat ketika Khilafah Islamiyah menguasai Dunia :

1. Pemberian sertifikat tanah (Tahun 925 H/1519 H) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman Inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia

2. Surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim khalifah ke Amerika Serikat yang sedang dilanda kelaparan pasca perang dengan Inggris (abad 18)
3. Surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah (30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H)

4. Pemberian izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah khalifah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera (13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865)

5. Khalifah membuat peraturan bebas cukai bagi barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari eksil ke Wilayah khalifah Utsmani pasca Revolusi Bolschevik (25 Desember 1920).

6. Pasukan khilafah Turki Utsmani tiba di Aceh (1566-1577) termasuk para ahli senjata api, penembak dan para teknisi. untuk mengamankan wilayah Syamatiirah (Sumatera) dari Portugis. Dengan bantuan ini Aceh menyerang Portugis di Malaka

7. Standar gaji guru yang mengajar anak-anak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sebesar 15 Dinar (1 dinar = 4,25 Gram Emas) atau setara 5.700.000,- rupiah dan diikuti oleh para khalifah berikutnya.

8. Di Bagdad berdiri Universitas al Mustanshiriyyah, Khalifah Hakam bin Abdurrahman an Nashir mendirikan Univ. Cordoba yang menampung Mahasiswa Muslim dan Barat. Gratis

9. Para khalifah mendirikan sarana umum untuk sarana pendidikan berupa perpustakaan, auditorium, observatorium dll

10. Ja’far bin Muhammad (940 M) mendirikan perpustakaan di Mosul yang sering di kunjungi para ulama baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan mendapat segala alat yang diperlukan (pena, tinta, kertas dll) secara gratis

11. Mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan diberikan pinjaman buku secara teratur

12. Pada masa Khilafah Islam abad 10 M. Seorang ulama Yaqut ar Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun per-orang.

13. Para khalifah memberikan penghargaan sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

14. Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky (Abad XI Hijriyah) mendirikan Madrasah an Nuriyah di Damaskus, di sekolah in terdapat fasilitas seperti asrama siswa, perumahan staff pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruanga besar untuk nceramah dan diskusi.

15. Sultan Muhammad I (1416 M) melakukan sensus pertanahan, registrasi berjalan hingga abad 17, jumlah dokumen di pusat arsip ini ada sekitar 1500 ton, meliputi wilayah dari afghanistan sampai Maroko, dari smenanjung Krim di Rusia sampai Sudan

16. Pada masa Khalifah Umar Ibn Al Khattab, beliau membangun Dar Ad Daqiq (gudang tepung) di berbagai kota dan rute perjalanan yang biasa ditempuh musfir, penuntut ilmu dan para saudagar. Siapa saja diantara mereka yang kehabisan bekal dalam perjalanannya, boleh mengambil bagiannya dari lumbung tersebut tanpa dipungut biaya

17. Khalifah Walid ibn ‘Abdul Malik membuat kebijakan dengan memberikan kepada setiap orang jompo dan orang-orang cacat/buta seorang pelayan untuk membantu mereka menjalankan kehidupannya sehari-hari.

18. Masa khalifah bin Abdul Aziz, tidak seorangpun yang dipandang berhak menerima zakat. Beliau sampai harus memerintahkan para pegawainya berkali-kali untuk menyeru di tengah-tengah masyarakat ramai, kalau-kalau di antara mereka ada yang membutuhkan harta, namun tidak ada seorangpun yang memenuhi seruannya

19. Pada masa beliau pula tidak ada satu orangpun penduduk Afrika yang mau mengambil harta zakat

20. Gaji para pegawai Negara hingga ada yang mencapai 300 dinar (1275 gram emas) atau setara 114.750.000,- rupiah

21. Masa al Hakim bin Amrillah, di Kairo, khilafah membangun 20.000 unit kios untuk disewakan kepada para pedagang dengan harga yang murah

22. Negara juga membangun perumahan untuk rakyat dan bangunan-bangunan besar yang dilengkapi dengan suply air, dengan menyediakan 50.000 ekor unta untuk mendistribusikan air ke perumahan-perumahan rakyat

23. Khalifah Sultan Abdul Hamid (1900) berhasil membangun jaringan kereta api Hijaz dari Damaskus ke Madinah dan dari Aqaba ke Maan

24. Pada masa beliau juga dibangun jaringan fax/telegraph antara Yaman, Hijaz Syiria, Irak dan Turki; lalu jaringan tersebut dihubungkan dengan jaringan fax India dan Iran, semua jaringan diselesaikan hanya dalam waktu 2 tahun

25. Bani ibn Thulun di Mesir memiliki Masjid yang dilengkapi dengan tempat-tempat mencuci tangan, lemari tempat menyimpan minuman, obat-obatan dan dilengkapi dengan ahli pengobatan (dokter) untuk memberikan pengobatan gratis

26. Khalifah Bani Umayyah banyak membangun Rumah Sakit yang disediakan untuk orang yang terkena Lepra dan Tuna Netra

27. Bani Abbasyiah banyak mendirikan Rumah Sakit di Bagdad, Kairo, Damaskus dan mempopulerkan Rumah Sakit keliling.

28. Ar Razi orang pertama yang mengidentifikasi penyakit cacar dan campak dan menggeluti bidang operasi

29. Ibnu al-Haitsam ahli optik yang menemukan perbandingan antara sudat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi)

30. Surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah (30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H)

31. Pemberian izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah khalifah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera (13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865.

32. Pemetaan bumi (informasi alam, hasil bumi, dan barang tambang) dimulai abad IX oleh al Muqaddisi (Abu Abdulah – 985 M) sehingga tersusun ensiklopedi sederhana mengenai ilmu bumi.
33. Masa Khalifah al Makmun (abad XI Masehi) al Khawarizmi dan 99 orang asistennya membuat peta bumi sekaligus peta langit (peta dengan menggunakan petunjuk bintang), pada saat yang sama bangsa eropa masih berkeyakinan bumi itu datar.

34. Al Khawarizmi menerbitkan bukunya yang termahsyur “Hisab al Jabar wa al Muqabalah” diterjemahkan ke Bahasa Latin dan menjadi rujukan/referensi Barat .

35. Al Battani (858-929 M) ahli dalam al jabar yang digunakan dalam ilmu ukur sudut, menguraikan persamaan sin Q/cosQ dan menjabarkan lebih lanjut formulasi cos a = cos b cos c + sin b sin c cos a pada sebuah segitiga.

36. Abu al Wafa’(940-998) pakar matematik yang mengungkapkan teori sinus dalam kaitannya dengan segitiga bola, dan orang pertama menggunakan istilah tangent, cotangent, secant dan cosecant dalam ilmu ukur sudut.

37. Jabir ibn Aflah (wafat 1150 M) dikenal barat dengan Geber, orang pertama yang menyusun formulasi cos B = cos b sin A, cos C = cos A cos B.

38. Al Kindi (abad IX M) pakar Fisika yang menguraikan hasil eksperimen tentang cahaya, karyanya tentang fenomena optic diterjemahkan ke Bahasa Latin yang memberikan pengaruh besar dalam proses pendidikan Roger Bacon.

39. Ibnu Haytam (965-1039 M) di barat dikenal dengan alhazen, pakar dalam bidang optic dan pencahayaan, 200 judul buku tentang optic dan pencahayaan dinisbatkan kepada beliau. Teorinya lebih dulu ada 5 abad sebelum teori yang sama dikeluarkan Torricelli. Beliau pula yang mulai melakukan eksperimen tentang gravitasi bumi jauh sebelum Newton merumuskan teorinya tentang gravitasi bumi.

40. Badi’uz Zaman Ismail (al Jazari – awal abad XIII) membahas tentang mekanika dituangkan dalam buku yang berjudul Kitab fii ma’rifah, diuraikan didalamnya berbagai fenomena mekanika sederhana yang menjadi dasar bagi para sarjana modern dalam menyusun ilmu mekanika modern.

41. Baghdad, Cairo, Cordova dll telah dibangun perkebunan (Botanical Garden) tempat untuk melakukan eksperimen para intelektual muslim.

42. Abu Zakaria Yahya (Abad XI M) Pakar pertanian, menulis buku tentang pertanian berjudul Kitab al Falahah.

43. Abu Ja’far al Qurthubi (1165 M) menyusun buku yang berisi seluruh jenis tumbuhan yang dijumpai di daerah Andalusia dan Afrika Utara, setiap nama tumbuhan diberi nama Arab, Latin dan Barbar.

44. Ibn Baythar (1248 M) melakukan eksperimen tentang rumput-rumputan dan berbagai jenis tumbuhan , kemudian menyusun 2 buah buku yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa latin pada tahu 1759 di Cremona.

45. Kaum Muslim turut memberikan andil bagi para pakar tumbuhan dan menyediakan informasi yang amat berguna mengenai sekitar 2000 jenis tumbuhan tumbuh-tumbuhan yang sebelumnya belum dikenal.

46. Al Jahir pakar zology menulis buku berjudul Kitab al Hayawan yang menjelaskan anatomi sederhana, makanan, kebiasaan hidup, serta manfaat yang dapat diperoleh dari berbagai jenis hewan.

47. Ad Damiri (1405 M) pakar zologi asal Mesir.

Ini hanya sedikit dari peradaban Islam yang luar biasa. Untuk lebih jauh mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang peradaban islam, saya anjurkan beberapa referensi dibawah ini untuk anda cicipi di sisa-sisa umur anda.[]

[ Ibnu Khaldun Aljabari,16 Syawal 1429 H]

Selasa, 27 Juli 2010

Rekonstruksi Dan Reunifikasi Kekuatan Dunia Islam (Bagian 3 Selesai)


Setelah umat memberikan mandat melalui simpul-simpul kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan, menata dan mengelola pemerintahan dengan syariah. Maka langkah selanjutnya adalah “menyeret” kembali negeri-negeri Islam yang hidup berantakan dan terkotak-kotak dalam entitas yang batil ke dalam pusaran khilafah.
Namun sebelumnya terlebih dahulu kita menakar sejauh mana peluang untuk melakukan Reunifikasi kekuatan dunia Islam setidaknya ada tiga (3) pendekatan perspektif yang dapat digunakan sebagai parameter antara lain :

1. Perspektif Historis.
Eksistensi Islam dalam sebuah Institusi negara Khilafah telah hadir mewarnai peradaban dunia saat itu yaitu dimulai pada awal abad ke-6 Masehi sampai pada awal abad ke-20 M. Khilafah telah menjadi sebuah wadah yang telah menampung dan menyatukan negeri-negeri Islam dari Spanyol hingga Indonesia sehingga menjadi kekuatan Adidaya dunia saat itu.
Setelah 13 abad keemasan, Daulah Khilafah, yang merupakan kesinambungan dari Daulah Islam (Negara Islam) yang di bangun oleh Rasulullah saw, di Madinah telah dihancurkan melalui tangan seorang manusia terkutuk Mustafa Kamal pada tanggal 3 Maret 1924.yang bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 1342H itu, maka Daulah Khilafah yang selama ini telah membawa Islam ke seluruh penjuru dunia telah lenyap dari muka bumi. Sejak saat itu juga, lenyaplah sudah sebuah Daulah Islam yang selama kurang lebih 1400 tahun telah memberikan rahmat dan kedamaian kepada dunia secara umum dan umat Islam khususnya, lenyapnya sebuah Daulah Islam yang selama ini menghilangkan seluruh belenggu yang memisahkan dan mengerat umat manusia, seperti nasionalisme, patriotisme dan juga rasisme.
Adapun gambaran ringkas tentang Khilafah dari masa ke masa yang menjadi bukti historis mengenai eksistensinya, sebagai berikut :
- Masa kekhilafahan kaum Muslim di awali dengan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang berlangsung selama kurang lebih 30 tahun yang berlangsung dari tahun 11 H sampai 41 H ( 632-661 M). Pada periode ini, kaum Muslim telah meraih masa keemasan, khususnya pada masa Kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab hingga separuh dari masa kepemimpinan Utsman bin Affan. Khalifah terakhir pada periode ini adalah Hasan bin ‘Ali, cucu Rasulullah SAW.
- Masa Kekhilafahan Bani Umayah . Pada tahun 41 H, Khalifah Hasan bin Ali mengundurkan diri dari jabatan khalifah. Selanjutnya, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan dibaiat untuk menggantikan Hasan bin ‘Ali. Mulai saat itu, kekhilafahan memasuki masa kepemimpinan Bani Umayyah. Kepemimpinan Bani Umayyah berlangsung selama kurang lebih 91 tahun, dari tahun 41 H sampai 132 H (661-749M), dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Pada masa ini, banyak negeri yang berhasil ditaklukkan. Di antaranya, di sebelah timur sampai ke negeri Cina; di sebelah barat sampai ke Andalusia (Spanyol) dan selatan Perancis.
- Masa Kepemimpinan Bani Abbasyah, setelah kepemimpinan Bani Umayyah berakhir pada tahun 132 H. Ini terjadi setelah  Marwan bin Muhammad mengalami kekalahan dalam Perang Zab, melawan pasukan yang dipimpin Abu Abbas as-Saffah dari Bani Abbasiyah. Sejak saat itu kekhilafahan beralih ke Bani Abbasiyah. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah berlangsung selama kurang lebih 783 tahun yaitu dari tahun 132 H sampai 918 H (749 – 1512). Khalifah pertamanya adalah Abu Abbas as-Saffah dan yang terakhir adalah al-Mutawakkil ‘Alallah. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan yang berpusat di Mesir. Masa kepemimpinan Bani Abbasiyah yang perpusat di Mesir berakhir tahun 918 H. Ini terjadi ketika kondisi politik saat itu sudah sangat tidak stabil.
- Selanjutnya Kepemimpinan dilanjutkan oleh Khilafah Utsmaniyah yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, sekitar 424 tahun, dari tahun 918-1342 H (1512-1924 M). Khalifah pertamanya adalah Salim al-Ula dan yang terakhir adalah ‘Abdul Majid ats-Tsani. Banyak prestasi yang berhasil diraih Kekhilafahan Utsmaniah, di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel. Mereka telah mendatangi Eropa sampai di Austria, lalu mengepungnya lebih dari dua kali. Negeri-negeri Eropa yang  berhasil dikuasai antara lain Hungaria, Beograd, Albania, Yunani, Rumania, Serbia, dan Bulgaria. Mereka juga telah menguasai seluruh kepulauan di Laut Tengah dan menariknya ke dalam pangkuan Islam.
Eksistensi Khilafah dalam sejarah peradaban diakui pun oleh cendikiawan dan sejarawanbarat, Will Durant memberikan apresiasi yang luar biasa terhadapnya beliau mengatakan, “Sepanjang masa Kekhilafahan Islam para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya; memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant The Story of Civilization).
Sementara itu, ketika mendiskusikan Kekhilafahan Islam yang terakhir, yakni Kekhilafahan Utsmani, Paul Kennedy menulis, “Empirium Utsmani adalah lebih dari sekadar mesin militer; dia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Empirum Romawi dan untuk jumlah penduduk yang lebih besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan." (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000).

2. Perspektif Normatif
Keyakinan akan tegaknya kembali Khilafah Jilid II bukanlah sekedar fantasi sebagaimana tuduhan dari beberapa pihak, namun sebuah keyakinan yang ditopang oleh empat perkara:
Pertama, jaminan dari Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih untuk memberikan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang pernah diberikan kepada para pendahulu mereka.
   Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa;  akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).
Kedua, kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa akan kembalinya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwwah (berdasarkan metode kenabian), setelah fase penguasa diktator pada zaman kita ini., Nabi saw. Bersabda, sebagaimana dituturkan Hudzaifah al-Yaman:
“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).
Ketiga, umat Islam yang hidup dan dinamis tentu akan menyambut perjuangan bagi tegaknya Khilafah dan siap mendukung perjuangan ini hingga Allah mewujudkan janji-Nya. Setelah itu, mereka akan bekerja keras merapatkan barisan untuk menjaga Khilafah. Karena Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang dimandat oleh Allah untuk menyandang Predikat sebagai umat terbaik (khayru ummah), yang akan selalu bergerak untuk mewujudkan predikat itu. Allah SWT berfirman:
Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali 'Imran [3]: 110).
Keempat, adanya partai (hizb) yang konsisten dan ikhlas, yang terus menerus bekerja kerasa tanpa kenal lelah semata-mata demi tegaknya Khilafah untuk menjemput janji Allah serta kabar gembira dari Rasulullah saw hingga benar-benar terwujud. Partai itu, sikapnya lurus, tidak pernah takut terhadap cacian orang yang mencaci, tidak bermanis muka, tidak berbelok-belok serta tekadnya sekuat baja sampai cita-citanya tercapai. Sebagaimana sabda Nabi saw., yang dikeluarkan oleh Muslim dan Tsauban:
Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu.
Sesungguhnya berdasarkan satu faktor di atas saja cukup untuk menyatakan bahwa perjuangan demi tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Lalu bagaimana jika keempat fakta tersebut menyatu?
3. Perspektif Faktual
Realitas faktual menunjukkan dunia sedang menuju proses unifikasi sebagai respon terhadap agenda globalisasi baik politik, militer dan ekonomi maupun solidariritas, sebagai contoh negara-negara eropa telah membentuk Uni Eropa yang diawali dari kerjasama ekonomi dengan membentuk mata uang bersama yang digunakan untuk transaksi antar negara. Bahkan keberadaan mata uang uero terbukti telah memberikan pukulan yang cukup menyakitkan kepada mata uang dollar maka akibatnya dollar mulai melemah. Demikian juga dibidang militer negara-negara Atlantik Utara membentuk aliansi pertahanan bersama yaitu NATO yang dibentuk sebagai Respon terhadap kekuatan militer Uni soviet saat itu sebagaimana kita ketahui bahwa dunia dalam suasana perang dingin antara Blok barat kapitalis VS Blok timur sosialis komunis. Di sisi lain umat Islam berkeyakinan bahwa umat Islam wajib bersatu, dan keyakinan tersebut sangat di pahami betul oleh barat sehingga berusaha membentuk dan merekayasa organisasi persatuan yang semu yaitu OKI yang tidak punya power dan “gigi” untuk menjaga dan melindungi Islam dan kaum Muslimin sekaligus memalingkan ummat dari persatuan yang mempunyai kekuatan politik dan spritual ummat Islam. (Oleh Saifullah, UKM LDK LDM UMI Makassar)

http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/952-rekonstruksi-dan-reunifikasi-kekuatan-dunia-islam-bagian-3-selesai-.html

Rekonstruksi Dan Reunifikasi Kekuatan Dunia Islam (Bagian II)


Langkah kongkrit untuk merekonstruksi kekuatan dunia Islam.
 
Seiring dengan meningkatnya kesadaran Umat Islam tentang kondisi kemunduran, ketertindasan yang menimpa mereka serta ketidakberdayaan dalam menghadapi keangkuhan dan monopoli politik Global Kapitalisme yang dinahkodai oleh Amerika Serikat secara terus menerus sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong keinginan umat Islam untuk bersatu yang kian hari semakin meningkat. Indikasi tersebut setidaknya bisa kita lihat dari maraknya gerakan-gerakan Revivalis Islam yang ada seperti Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, Ansarut Tauhid dll. Keberadaan mereka tidak bisa dianggap sebagai sebuah perpecahan namun harus dipandang sebagai sebuah wujud tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam rangka membangkitkan umat dari kemerosotan yang amat parah.

Untuk menuju reunifikasi kekuatan dunia Islam maka terlebih dahulu membangun kembali istitusi kekuatan umat Islam yaitu Daulah Khilafah yang sebelumnya telah pernah eksis kurang lebih 13 Abad yang hadir memimpin peradaban dunia sekaligus peradaban terlama sepanjang sejarah peradaban manusia. Dengan berdirinya Istitusi Daulah Khilafah yang akan menjadi embrio untuk merangkul dan menarik kembali seluruh negeri Islam yang hidup berantakan saat ini kedalam pusaran Institusi pemersatu kaum Muslimin tersebut.

Langkah-langkah perjuangan yang diperlukan untuk membangun kekuatan islam, antara lain :
1. Edukasi (Tasqif) .
langkah awal adalah dengan melakukan edukasi untuk memberikan penyadaran dan pencerahan terhadap kader-kader dakwah dengan tsaqofah (pemikiran) Islam yang cemerlang. Upaya ini ditujukan untuk menyiapkan kader untuk membangun kemampuan dalam bertahan dan menyerang secara intelektual terhadap berbagai praktek politik dan pemikiran yang bertentangan dengan Islam serta. Edukasi juga dimaksudkan untuk membangun kematangan dan membangkitkan militansi kader tersebut sehingga mampu bertahan dengan penuh kesabaran dalam mengarungi medan juang yang sangat terjal.
Secara umum ada dua macam bentuk edukasi yang dilakukan, yaitu :
a. Edukasi intensif ( Tasqif Murakkazah)
Secara intensif harus dilakukan bimbingan dengan menanamkan aqidah Islam dan syariah Islam yang totalitas (komprehensif). Sehingga mereka sebelum terjun ke masyarakat sudah siap dengan solusi-solusi yang nyata untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di tengah-tengah umat. Secara praktis aktivitas ini bisa dilakukan dengan bersandarkan pada halqoh-halqoh (kelompok kecil yang terdiri atas beberapa orang) dimana dalam aktivitas tersebut dengan memberikan pencerdasan dan pencerahan sistematik serta terarah melalui pengkajian secara mendalam terhadap pemikiran-pemikiran Islam.
b. Edukasi Kolektif (Tasqif Jama’iyah)
Edukasi kolektif ini dilakukakan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya penerapan syariah Islam secara kaffah oleh Daulah Khilafah Islam. Hal ini dilakukan dengan cara membina umat dengan tsaqofah Islam (pemikiran Islam), meleburkan dengan Islam, membebaskannya dari akidah rusak, pemikiran keliru serta pandangan-pandangan kufur. Membangun kesadaran umat ini adalah sangat penting. Sebab tidak akan terjadi perubahan yang mendasar di tengah-tengah umat kalau tidak terjadi perubahan kesadaran masyarakat. Perjuangan penegakan institusi kekuatan dan politik Khilafah haruslah dilakukan melalui umat dalam pengertian didukung oleh kesadaran umat. Karena yang ingin dibangun bukan sembarang pemerintahan namun sebuah pemerintahan yang didasarkan pada pemikiran yang matang dan cemerlang.

Edukasi ini dilakukan dengan pengajian-pengajian umum, khutbah jum’at, seminar, diskusi publik, debat terbuka. Termasuk lewat media masa seperti radio, televisi, surat kabar, majalah dan lainnya. Dari aktivitas ini dimaksudkan untuk melahirkan kesadaran umat untuk diatur semata-mata oleh syariat Islam. Kesadaran umat ini yang mendorong mereka untuk menuntut perubahan sistem negara yang jauh menyimpang dari Islam.
2. Interaksi dengan Masyarakat (Tafa'ul Ma'a Al Ummah)
Adapun Interaksi terwujud dalam beberapa bentuk antara lain :
a. Interaksi Pemikiran adalah bentuk interaksi yang ditujukan untuk melakukan pertarungan secara intelektual terhadap segala macam pemikiran yang kontradiksi secara diametarl dengan pemikiran Islam yang saat ini sedang mendominasi dan mengotori pemikiran umat seperti demokrasi, sekularisme, kapitalisme, sosialisme, pluralisme dll. Upaya tersebut dilakukan dengan membongkar dan mengungkap kesalahan serta kebusukan mengenai bahaya yang terkandung dalam pemikiran tersebut kepada umat setelah berhasil melumpuhkan pemikiran tersebut maka selanjutnya adalah menyampaikan pemikiran Islam yang cemerlang untuk menggantikan pemikiran kufur tersebut. Jadi interaksi ini dimaksudkan untuk mengupas berbagai metode dan instrumen yang digunakan oleh barat untuk mencengkram umat Islam.
b. Interaksi Politik adalah bentuk interaksi yang diarahkan untuk membongkar berbagai macam konspirasi yang dilakukan oleh penguasa terhadap rakyatnya, baik konspirasi antara penguasa dengan pengusaha atau kelompok lokal dimana kebijakan tersebut sangat berbahaya dan merugikan umat serta pertentangannya dengan hukum syara'. Demikian juga konspirasi yang dilakukan penguasa dengan kepentingan politik global harus terus menerus diungkap agar umat semakin menyadari tentang siapa sebenarnya penguasa yang mereka dudukkan disinggasana kekuasaan. Barat dan penguasa kaki tangan mereka senantiasa melakukan manuver dan strategi untuk mengokohkan cengkramanannya (baca: Penjajahan) sebagaimana yang saat ini mereka lakonkan dengan isu terorisme sebagai upaya stigmatisasi terhadap umat Islam dengan tuduhan yang dipaksakan bahwa pelaku terorisme ingin mendirikan Daulah Islamiyah serta menolak demokrasi. Singkatnya bahwa interaksi ini dimaksudkan untuk menyerang srategi yang digunakan oleh barat untuk mempertahankan cengkramannya terhadap umat Islam.
c. Merebut opini umum, disamping interaksi politik dan intelektual yang berlangsung secara sengit dan terus menerus pada saat yang sama gagasan tentang Syariah dan Khilafah terus dipropagandakan maka tentunya ketika masyarakat mendengar istilah tersebut akan melahirkan banyak persepsi baik berupa pertanyaan maupun pernyataan seperti: apa yang dimaksud dengan Khilafah? Khilafah utopis? Sampai pada bagaimana metode menegakkan khilafah, nah hal seperti ini adalah sebuah respon dari masyarakat dan menjadi 'entri point” untuk menjelaskan tentang Khilafah dan urgensinya sehingga kian lama kerinduan umat semakin tidak terbendung dan pada saat yang sama kepercayaan masyarakat kepada sistem yang lama (baca : demokrasi) semakin melemah hingga akhirnya bisa dilumpuhkan.
3. Memobilisasi dukungan dari simpul-simpul Massa. (Thalabun Nusrah)
Mobilisasi diarahkan untuk meminta dukungan kepada simpul-simpul kekuatan dan simpul-simpul umat dalam konteks perlindungan terhadap Islam dan Umat Islam sebagaimana Rasulullah meminta dukungan kepada para pemegang simpul-simpul kekuatan saat itu yang termanifestasi dalam bentuk kepala kabilah. Dalam kitab sirah Nabawi Karangan Ibnu Hisyam setidaknya ada 18 kabilah yang dikontak oleh Rasulullah untuk memberikan perlindungan terhadap islam, ada yang menolak secara halus namun ada juga yang menolak secara keras sebagaimana perlakukan penguasa Thaif dengan memerintahkan kepada para anak-anak untuk melempari Rasulullah dengan batu sampai beliau berdarah. Sekalipun perlakuan yang tidak manusiawi dari berbagai kabilah, namun Rasulullah tidak pernah berhenti untuk melakukan aktivitas tersebut, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut wajib serta satu-satunya jalan untuk meraih kekuasaan dari pemegang kendali kekuasaan ditengah-tengah umat. Dan dengan pertolongan Allah datang dari madinah lewat Suku Aus dan Khazraj. (Bersambung) (Oleh : Safullah UKM LDK LDM UMI Makassar).
http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/925-rekonstruksi-dan-reunifikasi-kekuatan-dunia-islam-bagian-ii-.html