Jumat, 06 Agustus 2010

KHILAFAH NEGARA HETEROGEN BUKAN NEGARA HOMOGEN

Sebuah Refleksi Pra-KONFERENSI UMAT ISLAM SULAWESI SELATAN DAN BARAT

Menjelang pelaksanaan konferensi Umat Islam dengan tema Refleksi Rajab, Sambut Ramadhan, Raih Kemenangan dengan Tegaknya Syariah dan Khilafah, yang akan dilaksanakan pada hari Ahad 1 Agustus 2010 bertempat di Tribun Lapangan Karebosi, maka kawan-kawan aktivis HTI chapter kampus Universitas Muslim Indonesia melakukan silaturrahmi serta bermaksud mengundang ketua Umum dan Pengurus serta Anggota HMI Mpo Cabang Makassar untuk menghadiri acara yang dimaksud. Pembicaraan diawali dengan menjelaskan maksud pelaksanaan kegiatan tersebut hingga melebar kepada diskusi seputar Khilafah, metodologi serta langkah praktis untuk mewujudkannya.

Dalam diskusi tersebut berbagai pertanyaan yang selama ini terpendam dalam benak kawan-kawan HMI akhirnya kesempatan tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkannya. Diskusi yang berlangsung santai dan penuh keakraban serta tetap dalam kerangka Ideologis, berlangsung sekitar dua jam dan banyak hal yang dipertanyakan namun karena ruang terbatas sehingga hanya point penting saja yang kami ke tengahkan, diantaranya sebagai berikut :

Mempertanyakan tentang korelasi antara pelaksanaan konferensi dengan perjuangan menegakkan Khilafah? pertanyaan tersebut langsung dijawab bahwa konferensi adalah sebuah upaya edukasi kepada ummat dengan mengangkat berbagai problematika yang ada khususnya pada level lokal, level Nasional dan level Internasional, dengan mengungkap fakta-fakta kerusakan yang ada, menjelaskan tentang akar masalah serta solusi Islam yang cerdas untuk menyelesaikannya.

Kemudian dilanjutkan dengan mempertanyakan relevansi khilafah dengan Indonesia mengingat kondisi sosial masyarakat yang sangat plural? Jawabannya : bahwa Khilafah adalah negara yang sifatnya heterogen bukan negara homogen sehingga tidak perlu ada kekhawatiran bahwa nantinya non-muslim akan dipaksa untuk masuk Islam, sebab Daulah Khilafah tidak memaksa dan menjamin non Muslim dalam masalah Aqidah untuk masuk Islam baik Kristen, Hiindu, Budha bahkan ateis semuanya berhak dan bebas menjalankan ritual ibadah mereka. Sejarah telah membuktikan Khilafah telah memberikan jaminan dan perlindungan kepada non Muslim yang hidup dalam negara Khilafah, bahkan Andalusia (Spanyol) terkenal dengan sebutan Espanol In three religion dimana tiga agama hidup berdampingan secara damai yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Namun dalam persoalan sosial masyarakat seperti hukum, Kriminal, pendidikan kesehatan dll, semuanya diatur oleh sistem Islam dan keamanan ditangan Kaum Muslimin, sebagai contoh dalam masalah kriminal seperti pencurian baik muslim maupun non muslim berhak mendapatkan perlakuan yang sama serta dihukum sesuai dengan syariat Islam.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan Khilafah sebagai ideologi transnasional ? Jawaban : bahwa sesungguhnya kita harus melihat persoalan kebangsaan secara utuh baik dari aspek, budaya, agama maupun sistem kenegaraan khususnya dalam kacamata historis dimana keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang sifatnya transnasional. Agama hindu yang ada tidak bisa dilepaskan dari persoalan transnasional yaitu India, demikian juga Budha yg latar belakang historisnya tidak bisa dipisahkan dengan Cina serta Agama Kristen baik Protestan maupun Khatolik yang dibawa masuk ke Indonesia oleh penjajah Belanda dan Portugis. Demikian juga dalam konteks Ideologi yang menjadi sumber inspirasi untuk mengatur dan mengelola tatanan kehidupan bernegara Indonesia tidak pernah lepas dari pengaruh ideologi yang sifatnya transnasional. Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diawali oleh rezim orde lama dibawah kendali presiden Soekarno yang menyeret indonesia lebih condong ke timur yaitu blok sosialis komunis. Orde baru pun yang saat itu di bawah nahkoda presiden soeharto Indonesia digeser untuk condong ke blok barat kapitalisme sekuler serta orde reformasi yang sementara berjalan dimana kapitalisme liberalisme yang semakin menggurita dan telah menggiring bangsa menuju collaps, ini pun merupakan ideologi transnasional dibawah kendali Amerika Serikat sang negara penjajah. pertanyaannya: Apa sih yang asli produk asli Indonesia? Mungkin yang asli produk Indonesia adalah budaya Koteka dan tradisi perang antara suku-suku di Papua serta praktek-praktek Animisme yang masih berlangsung diberbagai tempat.

Pertanyaan selanjutnya Bagaimana pandangannya tentang Islam kultural sebagaimana yang diwacanakan oleh berbagai ormas? Jawaban : bahwa kultur yang telah menjadi sebuah kebiasaan masyarakat adalah sebuah objek yang akan dinilai apakah benar atau salah. Lalu bagaimana ketika islam dipersentuhkan dengan persoalan kultur sosial masyarakat yang bertentangan dengan Islam seperti Koteka di Papua, lalu pertanyaannya adalah lantas apakah Islam mentoleransi dan memperbolehkan sholat dalam keadaan hanya menggunakan koteka? Maka jawabannya tentu tidak, justru yang dilakukan adalah memberikan edukasi agar mereka menutup aurat.

Dan terakhir mempertanyakan tentang cara mewujudkan Khilafah tersebut? Jawaban : Metode untuk menegakkannya tidak lain adalah melalui simpul-simpul kekuatan ditengah-tengah umat seperti Militer, Ulama, Pemikir dan Politikus Serta Media Massa, namun semuanya mesti diawali dari proses edukasi agar umat paham dengan syariah dan khilafah serta interaksi dengan umat tidak lain ditujukan untuk melakukan pergolakan pemikiran serta mobilisasi opini umum sehingga setelah tercipta kesadaran umum masyarakat tentang khilafah maka dengan sendirinya simpul-simpul massa akan cenderung bersikap sesuai dengan opini publik dan akan berpikir untuk beroposisi dengan opini publik. Wallahu A’lam Bi Ash-shawab (Alex Saifullah, BE Korwil BKLDK Sulawesi Selatan Dan Barat)

Catatan :
Diskusi telah di revisi namun tidak mengurangi substansi pembicaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar