Jumat, 25 Februari 2011

Kerusuhan Bentukan AS Untuk Ciptakan "Timur Tengah Baru"

MANAMA (Berita SuaraMedia) – Kerusuhan yang melanda negara-negara Arab dan mengakibatkan jatuhnya dua rezim pemerintahan di Tunisia dan Mesir adalah bagian dari proyek strategis rancangan Amerika Serikat yang diberi nama "Timur Tengah Baru," demikian kata seorang deputi asal Bahrain.

Istilah "Timur Tengah Baru" tersebut diperkenalkan pada 2006 oleh mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice. Para analis mengatakan, proyek tersebut menegaskan kebijakan Washington di kawasan yang luas, termasuk negara-negara Arab dan Asia Tengah.


"Kerusuhan dan revolusi yang kita saksikan saat ini di negara-negara Arab adalah implementasi dari proyek global AS yang diberi nama ‘Timur Tengah Baru’. Program ini dimulai dari Irak, kemudian disusul oleh Libanon," kata deputi Bahrain, Samira Rajab, seperti dikutip RIA Novosti.
"Sebuah babaka baru penerapan strategi tersebut yang setidaknya membutuhkan waktu satu dekade dimulai dari 2011," katanya.

Ia menambahkan, srtategi AS di kawasn tersebut ditujukan untuk memperlemah rezim-rezim penguasa dan memperkenalkan kelompok-kelompok oposisi kepada pemerintahan masing-masing.

Gelombang kerusuhan yang telah menggulingkan rezim-rezim otoriter di Tunisia dan Mesir menyapu dunia Arab dan melahirkan kerusuhan di Libya, Bahrain, dan Yaman.

Setelah Presiden George W. Bush mulai memerintah pada Januari 2001, ia memunculkan doktrin neokonservatif, membuat kerusakan di seluruh penjuru Timur Tengah.

Selama delapan tahun pemerintahan Bush, seluruh kekuatan – dalam bidang politik, ekonomi, para cendekia dan, yang lebih penting, militer – dikerahkan demi mencapai tujuan tunggal, yakni proyek Amerika yang baru.
Para pendukung Bush telah mempersiapkan petunjuk kepresidenan jauh sebelum waktunya. Saat Bush berkuasa, kekuatan terbesar dunia Barat sejak Kekaisaran Romawi mencoba mengubah dunia atas nama neokonservatisme demi mempromosikan kepemimpinan global Amerika.

Yang menjadi sasaran adalah rakyat di dunia Arab. Premis dasarnya adalah mempergunakan kekuatan dan pengaruh maksimum AS untuk menciptakan Timur Tengah yang baru, yang tunduk dan patuh kepada kepentingan dan tujuan AS.

Fokus utamanya adalah melestarikan superioritas Israel dan memanfaatkan kekuatan Amerika guna melenyapkan segala ancaman yang mengganggu tujuan tersebut. Yang dijadikan kedok adalah penyebaran demokrasi di kawasan Timur Tengah.

Untuk mencapai tujuan proyek tersebut, AS menyerang Irak. Rakyat Palestina di Gaza secara kolektif dikurung karena berani memilih Hamas, Libanon diserbu Israel dengan dukungan AS untuk menghancurkan Hizbullah, Iran menjadi musuh utama (setelah Irak diatasi), negara-negra Teluk diam-diam mempersenjatai diri demi stabilitas, dan para diktator di Afrika Utara dikendalikan untuk memerangi "Islamisme."
"Menggulingkan para pemimpin yang tidak tunduk pada AS dan mempermudah jalan bagi pemimpin yang lebih liat terbukti bermanfaat, sejauh rakyat di negara yang dimaksud tidak bersuara. Saat rakyat mulai mendapatkan suara, Timur Tengah mulai berubah. Sayangnya, bagi para pembuat kebijakan di AS (berikut para penasihat politik dan lembaga think tank mereka) perubahan dramatis tersebut tidak menuju ke arah yang mereka atur," tulis Mohammed Khan, seorang analis politik di Timur Tengah, seperti dilansir Al Jazeera.

"Yang menjadi katalis untuk guncangan politik yang saat ini kita saksikan adalah kerusuhan di Tunisia pada akhir 2010. Karena merasa terdorong oleh penggulingan rezim brutal Zine El Abidine Ben Ali, rakyat Mesir kemudian turun ke jalan dan menuntut reformasi. Hanya dalam kurun waktu 18 hari, Mesir mampu menggulingkan seorang diktator yang rezimnya banyak diwarnai korupsi dan penyalahgunaan. Mesir akhirnya terbebas dari penjara politik selama 30 tahun," tulisnya.

"Saat rakyat Tunisia mengawali ‘proyek dunia Arab baru,’ rakyat Mesir baru menyelesaikan tahap pertama yang menentukan. Kesimpulan yang dapat ditarik dari peristiwa bersejarah ini masih terlalu awal untuk diukur. Yang pasti adalah, masih banyak hal yang akan terjadi sebelum debu politik turun. Namun, cukup aman dikatakan bahwa kelahiran Timur Tengah yang baru kini sudah terasa, tapi tidak sesuai dengan bayangan orang luar," tulisnya. (dn/nk/aj) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar