Untuk kesekian kalinya publik di hebohkan oleh seorang mahkluk yang bernama Gayus Halomoan Tambunan, tersangka mafia pajak. Sebagaimana kita ketahui , Bukannya meringkuk dalam sel, sosok mantan pegawai Ditjen Pajak itu kedapatan sedang asik menonton Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu. Bahkan, Sebelum pelesir ke Bali, Gayus juga pelesir ke Macau dan Kuala Lumpur. Dia menggunakan nama samaran 'Sonny Laksono' . (http://detiknews.com/read/2011/01/04/) . Kini ada lagi foto-foto Gayus berlibur di luar negeri. Foto yang beredar di forum online Kaskus itu disebutkan diambil di Thailand. Bahkan Bambang Soesatyo berpendapat Satgas PMH dan juga publik sudah mencatat, sejak masuk tahanan 26 Juni 2010 hingga 4 November 2010, Gayus HP Tambunan tercatat 68 kali keluar masuk tahanan. "Kemana saja Gayus Tambunan pergi dan apa saja yang dilakukannya, pasti bisa didapatkan Satgas PMH langsung dari mulut Gayus pada periode November 2010," ujarnya. (www.indonesiaheadlines.com).
Kamis, 13 Januari 2011
Kamis, 06 Januari 2011
MANUVER POLITIK AS DI SEMENANJUNG KOREA
Perang Korea dimulai dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutu PBB-nya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB. Sekutu Korea Utara, seperti Republik Rakyat Tiongkok, menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet yang menyediakan penasihat perang dan pilot pesawat, dan juga persenjataan, untuk pasukan Tiongkok dan Korea Utara. Di Amerika Serikat konflik ini diistilahkan sebagai aksi polisional di bawah bendera PBB daripada sebuah perang, dikarenakan untuk menghilangkan keperluan kongres mengumumkan perang. (http://id.wikipedia.org)
Senin, 06 Desember 2010
ANTARA VIRUS HIV DAN SEKS BEBAS
Virus ini bukan sembarang virus seperti kalau kita kena flu, batuk, pilek dan sejenisnya. Atau juga bukan seperti brontok, win32, cantik, nadia savira, bulu bebek, trojan dan sejenisnya yang sering menginfeksi komputer anda. Virus ini menyerang manusia, tepatnya antibody manusia. Dan infeksi virus ini pada manusia bisa menyebabkan penurunan secara cepat sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan berkurangnya imunitas tubuh sehingga manusia dapat dengan mudah terjangkit berbagai penyakit sehingga kesempatan untuk pulih sangat kecil. Adapun Virus yang kami maksudkan adalah virus HIV yang menyebabkan penderitanya menderita penyakit AIDS. Dan 1 Desember biasa dijadikan hari berkumpulnya penderita AIDS sedunia (baca : hari AIDS sedunia). Bahkan, 29 November 2006 lalu, di seputar bundaran hotel Indonesia di Jakarta ada demo yang diikuti oleh 20an ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang kian tak terkendali, jika tidak mereka mengancam akan menginfeksi masyarakat seIndonesia dengan virus mematikan tersebut.Tuntutan tersebut kiranya tidak terlalu berlebihan. Karena jumlah ODHA dari tahun ke tahun bukannya tambah berkurang, tetapi terus membesar seperti bola salju. Dan ada kecenderungan bahwa ODHA merasa malu jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya sehingga mereka cenderung menyembunyikan dari petugas kesehatan apalagi dari orang awam. Sehingga sekalipun pemerintah memiliki data jumlah penderita HIV/AIDS, namun pada dasarnya data tersebut ibarat fenomena gunung es, yang hanya diketahui puncaknya saja tapi dasarnya tidak diketahui. Padahal dasarnya jauh lebih besar berlipat-lipat kali dibandingkan puncaknya.
Asal tahu saja, data dari UNAIDS-badan dunia yang khusus menangani masalah HIV/AIDS tahun 2003 tercatat jumlah penderita HIV/AIDS di dunia mencapai 45 juta jiwa. Di Afrika 3,2 juta orang terinfeksi virus ini dan 2,3 juta diantaranya tewas. 210 ribu kasus terjadi di Asia Timur dan Asia Tenggara, 45 ribu diantaranya tewas. (Koran Tempo, 13 Juli 2004).) Jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh kabupaten/kota di Indonesia pada 2010 diperkirakan mencapai 93 ribu sampai 130 ribu orang.
Menurut "National Trainer Care, Support and Treatment IMAI-HIV/AIDS", dr Ronald Jonathan MSc, pada seminar dua hari "Global Diseases 2nd Continuing Professional Development" di Bandarlampung, Sabtu dan Minggu, angka itu diperoleh berdasarkan perkiraan pengaduan penderita terinfeksi HIV/AIDS ke sejumlah rumah sakit, yang berjumlah tidak lebih dari sepersepuluh korban terinfeksi keseluruhan. (www.antaranews.com / 15 November 2010). Bahkan untuk wilayah Indonesia Timur “Sulsel sudah sama dengan provinsi lain dengan peringkat kedua setelah Papua. Daerah ini ibarat fenomena gunung es di bawah air,” kata Muhammad Anwar, Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi kepada Tempo, Rabu (31/3), usai rapat ranperda penanggulangan HIV/AIDS di ruang Komisi E DPRD Provinsi. Peningkatan jumlah penderita AIDS di Sulawesi Selatan sudah mencapai 7.500–8.000 dengan penderita terbanyak di usia produktif. Rata-rata penderita berstatus anak sekolah, mahasiswa dan pekerja.
Penyebaran HIV/AIDS, kata Anwar, disebabkan penggunaan jarum suntik dan hubungan seks dengan banyak pasangan (www.tempointeraktif.com / 3 maret 2010). Jelaslah, bahwa HIV/AIDS telah menjadi ancaman global dunia internasional dan sekali lagi itu adalah data yang tampak di permukaan sedangkan yang sebenarnya terjadi bisa berlipat-lipat.
Bahkan yang lebih mengerikan lagi ternyata tidak sedikit usia para ODHA itu yang masih berusia remaja yaitu sekitar 15-35 tahunan.Hal ini dikuatkan dengan data penderita HIV/AIDS berdasar usia: 38% berusia 16-20 tahun, 40% berusia 21-25 tahun, 20% berusia 26-30 tahun, dan hanya 2% yang berusia 31-35 tahun (Yakita, 1999-2002).
Melihat fakta keganasan HIV/AIDS yang makin tak terkendali, pemerintah sepertinya kalang kabut. Maka dibuatlah kampanye “Setia pada Pasangan”, sterilisasi jarum suntik, pemeriksaan secara ketat darah yang ditransfusikan serta banyak lagi yang lain. Kondomisasi juga menjadi salah satu langkah strategis yang dipilih pemerintah. Promosi yang dilakukan begitu gencar mulai dari menebar 60 juta kondom di lima provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali sampai mendirikan ATM kondom agar keberadaannya mudah diakses oleh masyarakat. Namun, adanya ATM kondom menimbulkan polemik di masyarakat karena dinilai memfasilitasi adanya free sex.
Pemerintah yakin dengan mempromosikan penggunaan kondom akan menekan angka pengidap HIV/AIDS. Padahal, pada sejumlah penelitian efektifitas kondom masih diragukan, sebab kondom yang terbuat dari bahan latex memiliki pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali lipat, sementara virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat leluasa menembus pori-pori kondom.
Menanggulangi HIV/AIDS dengan kondom jelas bukan solusi yang efektif. Ibarat memberantas rumput liar dengan memotong daunnya tanpa mencabut sampai akarnya. Pemerintah bukannya menghapuskan perilaku free sex masyarakat Indonesia, tapi justru menumbuhsuburkan pusat penyebaran virus mengerikan ini dengan melokalisasi pelaku seks bebas dalam sebuah wilayah tertentu atau bahkan membiarkan situs-situs porno untuk diakses oleh masyarakat atau beredarnya lokalisasi-lokalisasi “bayangan” dan lain-lain. Hal ini justru memperparah penyebaran virus HIV/AIDS karena faktor utama penyebaran virus mematikan ini adalah perilaku seks bebas bukan tidak digunakannya kondom.
Maka memberantas adanya seks bebas di semua kalangan harus dioptimalkan. Budaya yang hedonis, permisif dan liberal yang makin merejalela dan mencekoki masyarakat saat ini adalah produk Barat sebagai salah satu bentuk penjajahan yang harus segera disingkirkan . Dengan menjajakan liberalisasi perilaku, Barat berusaha mengcengkeramkan ideologinya ditengah-tengah kaum muslim. Pemahaman barat yang sekular-memisahkan agama dari kehidupan- inilah yang menjadikan kehidupan masyarakat anak-anak, remaja, pemuda, orang tua- menjadi tidak punya pandangan hidup yang benar (Islam).
Untuk membendung semakin meluasnya pengaruh liberalisasi yang berefek menjamurnya HIV/AIDS maka dibutuhkan peran dari berbagai elemen masyarakat, yaitu : individu, masyarakat dan negara. Jika salah satu pihak ini tidak ada maka bisa dipastikan tidak akan bisa terwujud tatanan masyarakat yang ideal. Individu harus membentengi dirinya dengan keimanan dan ketakwaan yang kokoh dalam dirinya. Hal ini bisa didapatkan melalui pengkajian keislaman yang saat ini sangat mudah diakses.
Masyarakat harus terus melakukan kontrol. Para aktivis yang tergabung di berbagai organisasi yang merupakan bagian dari masyarakat harus memberikan kontribusi real untuk menjaga agar tercipta sistem yang ideal. Berbagai upaya harus terus dilakukan untuk mencegah virus ini. Upaya ini tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah/negara karena pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung negara harusnya menutup semua akses menuju zina. Inilah bukti peran negara dalam menjaga dan mengayomi rakyatnya. Kondisi yang demikian bisa terlaksana tatkala Islam terterapkan secara menyeluruh di setiap sendi kehidupan oleh suatu negara. Ini bukanlah omong kosong karena telah terbukti selama 13 abad masa keemasan Islam dan sampai saat ini tidak ada satu sistem pun yang bisa menandinginya. Wallahu A’lam Bish-shawab (Oleh : Alex Saifullah, BE Korwil Sul-Selbar)
Minggu, 24 Oktober 2010
Gerakan Mahasiswa: Antara Intelektualitas dan Anarkis.
Ekpresi jalanan yang dilakukan oleh organ-organ pergerakan Mahasiswa untuk menumpahkan kejengkelan terhadap ketidakbecusan penguasa dan sistemnya dalam mengelola dan menata kehidupan negeri ini yang berujung pada adegan-adegan brutal dan penutupan jalan sebagaimana yang dilakonkan oleh sebagian Mahasiswa Makassar. Aksi tersebut mendapatkan tanggapan secara beragam dari masyarakat, ada yang pro dan kontra, namun lebih banyak yang kontra. Maka untuk itulah saya ingin mendalami persoalan tersebut secara proporsional sehingga tidak terkesan menghakimi dan mengadili salah satu pihak. Karena tentunya dalam nalar kita semua menginginkan yang terbaik untuk Islam dan bangsa ini.
Pertama-tama saya ingin mengemukakan beberapa factor yang menjadi alasan aksi-aksi Mahasiswa selalu berujung pada aksi brutal, pengrusakan fasilitas umum dan penutupan Jalan ,antara lain:
1. Tebalnya tembok yang menjadi sumbatan bagi kawan-kawan Mahasiswa untuk menyampaiakn aspirasinya sehingga melakukan cara-cara yang dapat mengusik penguasa agar memperhatikan mereka, maka pada titik ini penguasa gagal total menjalankan perannya sebagai pelayan umat sehingga bukan hanya mahasiswa yang harus mengevaluasi cara-cara penyampaian aspirasinya namun lebih dari itu penguasa harus lebih peka terhadap berbagai kegelisahan-kegelisahan terutama dari arus bawah.
2. Pada dasarnya bahwa gerakan perlawanan yang berujung pada bentrokan fisik adalah eksprsi letupan kejengkelan terhadap penguasa dan sistemnya karena mereka merasa berjalan pada jalur yang benar padahal sangat tampak dan telah diketahui secara umum adegan-adegan rekayasa terhadap berbagai kasus seperti, Terorisme, Bank Century, Kriminalisai KPK, Kasus Mafia Pajak, Setgab )sekretaris Gabungan, konflik perbatasan Indonesia-Malaysia serta Jaksa Agung. Adegan-adegan kotor yang dilakonkan oleh penguasa tersebut semakin menimbulkan rasa muak dari Masyarakat khususnya yang memahami persolaan dan peduli terhadap kondisi yang ada yaitu mahasiswa.
3. Boleh jadi ekspresi jalanan yang dilakukan oleh Mahasiswa selama ini khususnya Mahasiswa Makassar sengaja ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu untuk mereduksi pergerakan Mahasiswa dengan melakukan provokasi-provokasi apalagi Mahasiswa Makassar sangat mudah untuk tersulut. Dengan berhasilnya stigmatisasi gerakan mahasiswa yang identik dengan kekerasan maka tentunya akan melunturkan kepercayaan dari Masyarakat terhadap Mahasiswa sebagai agent of change dan sosiaf of control.
4. Ketidakjelasan konsep tentang perubahan yang hendak dituju serta metodologi dan cara untuk mewujudkannya sehingga dalam bergerak cenderung “meraba-raba”, maka dalam menyampaikan aspirasinya ketika sudah tidak di gubris oleh penguasa yang ada maka cara yang paling instan untuk dilakukan agar mereka disorot adalah dengan skenario chaos.
Terlepas dari berbagai alasan yang menjadi sebab terjadinya aksi brutal Mahasiswa setiap kali melakukan ekspresi jalanan, maka kita perlu melakukan koreksi secara total apakah layak untuk mengaminkan adegan-adegan brutal tersebut? maka setidaknya ada tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk mengoreksinya,yakni:
1. Pendekatan Intelektual , mahasiswa adalah orang-orang yang telah dimandat oleh masyarakat sebagai kaum intelektual. Gelar tersebut bukan hanya sebatas penyematan kehormatan saja namun secara objektif Mahasiswa cenderung berpikir secara objektif dan kritis serta dari sisi potensi usia mereka adalah usia yang produktif dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap problematika kehidupan yang ada. Untuk itulah amanah sebagai Insan intelektual muda harus tetap dijaga. Pertanyaan kemudian adalah apakah aksi-aksi yang berujung pada tindakan brutal, merusak fasilitas umum serta penutupan jalan adalah tindakan yang terkategori sebagai aktivitas intelektual? Maka pada titik ini cara-cara yang tidak elegan tersebut justru mengkhianati prinsip-prinsip intelektual itu sendiri
2. Pendekatan strategi, menjadikan masyarakat sebagai korban sebab aktivitas mereka terganggu sehingga gerakan perlawanan dengan tujuan membela kepentingan masyarakat justru mendapatkan cacian dari masyarakat itu sendiri, padahal seharusnya merapatkan barisan dengan masyarakat sehingga aksi tersebut akan memiliki pengaruh yang kuat. Demikian juga Beroposisi dengan Polisi maupun TNI adalah pilihan yang tidak tepat sebab mereka terkategori sebagai variable-varible perubahan itu sendiri, sehingga pilihan untuk beroposisi dengan mereka justru semakin mempersulit dan mempersempit gerakan itu sendiri, maka pada titik ini kita bisa mengatakan adalah sebuah kesalahan strategi.
3. Pendekatan normative, tentunya ini adalah masalah prinsip karena berkaitan dengan landasan bagi setiap organ perubahan dalam bergerak, maka sebagai gerakan yang telah menjadikan Islam sebagai landasaan ideologisnya baik konsep, metodologi, cara maupun strategi harus tetap dalam jalur Islam.
Rasulullah saw bersabda: “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Muttafaq ‘alaih).
Jadi sangat jelas bahwa ekspresi jalanan yang berujung pada adegan-adegan brutal, pengrusakan fasilitas umum dan penutupan jalan sangat bertentangan dengan Islam, maka siapapun baik individu maupun kelompok dalam bergerak harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam.
Maka saatnyalah Mahasiswa tampil secara elegan dalam bergerak, mempersiapkan segala perangkat-perangkat perubahan serta mengajak seluruh variable-variable perubahan untuk bergerak bersama-sama melakukan perubahan. Perlu diingat bahwa bukan hanya sekedar terjadinya perubahan dengan pergantian rezim, namun memerlukan kalkulasi secara mendalam sehingga perubahan itu sendiri bisa memberikan jawaban terhadap problematika kehidupan yang ada. Secara historis orde lama telah gagal demikian juga orde baru dan orde reformasi sebagaimana yang telah berlangsung saat ini justru semakin mengantarkan perjalanan bangsa menuju collaps, maka satu-satunya harapan perubahan adalah orde Revolusioner (ganti rezim dan sistem) yaitu dengan syariah Islam dalam naungan Institusi Negara Khilafah. Wallahu A’lam Bish-shawab
Oleh : Alex Saifullah, KORWIL BKLDK Sulawesi Selatan Dan Barat
Langganan:
Postingan (Atom)



