Minggu, 23 Oktober 2011

Tujuh Tahun Kepemimpinan Presiden SBY VS Dua Tahun Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Mencoba untuk mengurai dan mengkomparasikan antara dua masa kepemimpinan pada waktu yang berbeda yaitu SBY dalam konteks realitas masa kini dan Umar Bin Abdul Aziz dalam konteks realitas masa silam. Membanding antara kedua pemimpin tersebut bukanlah sebagaimana pemahaman kebanyakan orang yaitu membandingkan antara yang satunya manusia dan satunya malaykat tentunya pernyataan ini perlu di koreksi sebab bagaimana pun juga Umar Bin Abdul Azis adalah manusia biasa seperti manusia pada umumnya yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan seperti merasakan lapar, haus, menikah, makan, bekerja, beribadah, sedih..dll. Jadi tepatnya membandingkan kedua sosok tersebut adalah membandingkan antara manusia dengan manusia yang tentunya dalam kapasitasnya sebagai pemimpin sebuah negara, memimpin masyarakat yang heterogen baik ragam agama, ragam etnis, ragam budaya, ragam bangsa dll. Serta yang terpenting dari sebuah kepemimpinan adalah harus berangkat dari filosofi penggembala, sebagaimana Sabda Rasul SAW :
Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah  pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya (rakyat) (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar)
Penegasan Rasul tersebut dimana kepemimpinanan adalah sunatullah, yang tentunya setiap manusia akan mendapatkan konsekuensi atas kepemimpinannya. Di sisi lain harapan masyarakat sebagai pihak yang di pimpin adalah adanya kehidupan yang lebih baik, kesejahteraan bisa di rasakan, keamanan harta maupun jiwa terjaga, akses pendidikan murah demikian juga kesehatan serta empati dari sang pemimpin. Nah, tentunya indikator-indikator inilah yang bisa di gunakan sebagai para perameter untuk mencoba mengkomparasikan antara dua kepemimpinan tersebut serta tentunya sikap-sikap yang lain yang bisa menjadi teladan bagi rakyatnya.

Sebagaimana kita ketahui Via media elektronik maupun surat kabar atau menyaksikan langsung gelombang ketidakpuasan masyarakat terhadap dua tahun kepemimpinan SBY pada periode kedua atau kalau di akumulasikan pemerintahan SBY dari periode pertama dan kedua maka interval masa kepemimpinannya selama tujuh tahun yang tepatnya pada hari kamis, 20 oktober 2011.

Aksi ketidakpuasan tersebut sebagaimana di lansir media bahwa, Ratusan mahasiswa dari Ratusan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Indonesia (BEM SI), akan menggelar demo di Bunderan Hotel Indonesia hingga di depan istana, kamis (20/10). Unjuk rasa yang dilakukan para mahasiswa ini untuk memperingati 2 tahun pemerintahan SBY-Boediono. BEM SI menggangap bahwa kepemimpinan SBY-Budiono telah Gagal memegang Amanah rakyat. Meski SBY Telah melakukan pergantian Menterinya dan penambahan untuk wakil menteri dijajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini. (liputan6.com, 20/10/2011)

Ketidakpuasan masyarakat tentunya sangat beralasan, BPS melansir jumlah penduduk miskin, atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada Maret 2011 mencapai 30,02 juta  orang  (12,49 persen)… Anggota Komisi XI DPR Arief Budimanta menjelaskan garis kemiskinan yang digunakan sangat rendah yakni hanya sebesar Rp254.016 untuk kota dan Rp213.395 untuk desa serta Rp233.740 untuk kota dan desa. "Sehingga jika menggunakan standar Bank Dunia yakni USD2 per hari maka hampir 50 persen penduduk Indonesia masuk ke dalam kategori miskin," tegasnya. (ekonomi.okezone.com, 4 Juli 2011)

Bukan hanya persoalan kemiskinan, namun sejumlah persoalan yang sedang menjerat bangsa ini seperti : tembang pilih dalam penegakan hukum,  Korupsi yang semakin menggurita, dekadensi moral,  dll. Khusus korupsi menurut, Indonesia Corruption Watch (ICW) Rabu kemarin, 4 Agustus 2010, merilis bahwa mereka mendapati 176 kasus korupsi yang ditangani aparat hukum di level pusat maupun daerah. Nilai kerugian negara dalam kasus-kasus itu ditaksir mencapai Rp2,102 triliun. (fokus.vivanews.com, 4 agustus 2010).

Jadi itulah prestasi “gemilang”yang telah di capai selama pemerintahan SBY bahkan bangsa ini sudah masuk dalam indeks sebagai negara gagal dengan indikator-indikator bahwa pemerintah gagal mensejahterakan rakyat, gagal menjaga kehormatan rakyat, gagal menjaga & melindungi rakyatnya, gagal memberantas korupsi dll. Bahkan ketika tidak ada terobosan signifika serta perubahan paradigma kepemimpinan maka tidak menutup kemungkinan negara ini terancam menjadi negara collaps.

Nah, coba kita bandingkan dengan Khalifah Umar Bin Abdul Azis, salah seorang Khalifah dari Bani Umayah yang memerintah sekitar dua (2) tahun yaitu dari tahun (99-102 H/717-720 M). Dari Hammad di riwayatkan bahwa tatkala Umar di angkat menjadi Khalifah dia menangis dan berkata, “wahai ayah fulan apakah kamu takut kepada saya?”Dia berkata, “ Bagaimana kecintaanmu kepada Dirham?”Umar berkata, “Sama sekali saya tidak menyukainya!” Dia berkata “Jika demikian, maka janganlah engkau Khawatir kepada dirimu, Allah akan senantiasa menolongmu.” Jadi sangat berbeda dengan perilaku pemimpin saat ini ketika di mandat oleh rakyat untuk menjadi penguasa maka langkah pertama yang meraka lakukan adalah sujud syukur.

Pasca terpilih, kebijakan pertama yang beliau lakukan pada saat berkuasa adalah melakukan perbaikan dari kalangan keluarganya, yaitu dengan mencabut hak-hak istimewa yang menjadi kebijakan Khalifah sebelumnya. Kemudian mengembalikan tanah rakyat yang di ambil oleh Khalifah sebelumnya kepada pemiliknya.
Karena keadilan beliau serta ketaatan kepada Allah baik dalam kapasitasnya selaku individu maupun sebagai kepala negara, dia hanya memutuskan segala perkara dan perselisihan menurut apa yang Allah turunkan.  Di riwayatkan dari Jisr Al-Qashashab berkata “Saya melihat serigala dan kambing hidup damai dimasa pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz. Lalu saya katakan, “Subahallah! Serigala sama sekali tidak berbahaya berada di tengah-tengah kambing? Penggembala berkata; “Jika kepalanya baik, maka semua jasad pun tak akan menderita sakit apa-apa.” Malik bin Dinar berkata ; “Tatkalah Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah, para penggembala domba dan kambing berkata, “ siapakah orang sholeh yang kini menjadi Khalifah umat ini? Keadilannya telah mencegah serigala-serigala untuk memakan domba-domba kami”. Subahanallah.

Pada masa pemerintahannya pun rakyat menikmati kesejahteraan sehingga tak ada lagi yang miskin padahal interval kepemimpinan beliau sangat singkat yaitu hanya kurang lebih dua tahun. Dari Umar bin Usaid bekata; “ Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan jumlah harta dan dalam jumlah yang besar dan dia berkata “Salurkan harta ini sesuai dengan kehendakmu.” Ternyata tidak ada yang mau menerima harta itu. Sunggu umar telah membuat manusia berkecukupan.

Bahkan di akhir pemerintahan dan pasca meninggal, kekayaannya malah berkurang secara drastis. Anaknya yang bernama Abdul Aziz berkata; “Abu Ja’far Al-Manshur bertanya pada saya, berapa jumlah kekayaan ayahmu saat diserahkan kepadanya kendali Khilafah?” Saya katakana Empat puluh ribu dinar?” Dia bertanya, “lalu berapa kekayaan ayahmu saat dia meninggal dunia?” saya katakana, “empat ratus dinar. Itupun kalau belum berkurang.

Nah, kita bandingkan dengan kekayaan SBY yang masih sementara menjabat kekayaannya malah semakin bertambah, dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), pada Juli 2007 tercatat Rp 7,14 miliar dan 44.887 dolar AS. Jumlah ini meningkat dari Rp 4,65 miliar per 10 Mei 2004, sebelum SBY menjadi Presiden. Kekayaan SBY saat itu, di antaranya berupa harta tidak bergerak senilai Rp 2,98 miliar. Jumlah ini bertambah dari Rp 1,24 miliar pada 2004. SBY juga memiliki kekayaan berupa giro senilai Rp 3,49 miliar. Sedang per 10 Mei 2004, giro yang dimiliki SBY, senilai Rp 2,75 miliar. (www.suaramerdeka.com, 18/10/2011) 

Jadi memabanding antara kepemimpinan SBY dengan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, seperti membandingkan antara buah apel yang satunya busuk dan yang satunya segar. (Coretan berantakanku, dari :  Saifullah)
Referensi :
Imam As suyuti, Tarikh Al Khulafah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar